Jikalau setiap tetes airmata dapat mewakili setiap tusukan ke hati,
mengamati mereka yang berkata mewakiliku..kemana banjir kekecewaanku bisa ditampung?
Tuhan Yang Kuasa, Yang bertahta diatas semua yang berkuasa..masih sehatkah jiwaku? ketika aku mengharapkan sesuatu yang lebih? lebih dari dagelan politik yang memenuhi layar kaca dan sampah 'pilihlah aku!' berwarna warni dipinggir jalan?
Aku sadar bahwa semua berada dalam kedaulatanMu. Aku tahu bahwa tak ada yang terjadi tanpa sepengetahuanMu. Tuhan, setiap lembar ingatanku menangis untuk bangsaku. Terlalu sombongkah aku Tuhan? ketika aku berharap diwakili oleh mereka yang setidaknya memiliki sedikit kemampuan? kemampuan untuk menangis bersama rakyat yang diwakilinya?
Mimpi disiang bolongkah aku Tuhan? ketika aku mengharapkan kecerdasan emosional wakilku yang setidaknya lebih dari seorang anak yang berguling dilantai karena kemauannya tidak dituruti? Mabukkah aku Tuhan, ketika aku mengharapkan tokoh yang tidak berkosa kata pencitraan politik?tidak berkosakata preman?tetapi berkosa kata nurani?
Tuhan, sesak napasku melihat kemunafikan dan keangkuhan diagungkan. Saling mengaku sukses, devaluasi kecerdasan emosional bagaikan bukan manusia lagi. Jikalau ini yang harus kupilih, haruskah aku melupakan cita-cita luhur bangsa ini? Haruskah aku membakar dan memusnahkan setiap ingatan akan falsafah dan tujuan negara ini didirikan?
Dalam sudut pikiran yang terdalam, kutersenyum sinis dan pragmatis..ah kenapa susah?siapapun mahluk yang kupilih, takkan hadir dalam paripurna, suatu proses formalitas..suatu legalisasi penggunaan uang rakyat..memberi kemakmuran kepada yang lupa dengan rakyat. Amnesia total sepanjang tahun, hanya ingat setiap 5 tahun, ketika janji surgawi bertebaran bagaikan pasir ditepi pantai. Semerbak senyum dan topeng diri beraneka warna.
Tuhan mungkinkah lahir? setitik kebenaran yang murni?diantara janji-janji manis yang memenuhi langit nusantara? Dimanakah semangat para pendiri bangsa?seakan tak tersisa..ditengah lautan preman dan artis yang memenuhi senayan. Wakil rakyat telah menjadi profesi paling diminati dalam bursa kerja masa kini..segelintir tersisa yang mengingat misinya. Semakin tidak terdengar ditengah lautan teriakan kepentingan diri dan partai politik.
Tuhan masih mampukah kebenaran dan kejujuran menerobos?menerobos lumpur pekat kepentingan dan gerombolan partai yang tak ada habisnya?mungkinkah aku masih bisa melihat Sjahrir baru, Hatta baru..Baharrudin Lopa baru..Munir baru? Ketika mereka yang mewakili suara bangsaku masih berjuang mempertahankan nurani? ketika mereka yang bersuara memiliki kompetensi pemikiran yang lebih dari sekedar berorasi, loyalitas kepada partai politik dan diri?
Tuhan sampai kapan aku harus menangis?Gilakah aku jika hatiku menangis untuk pesta demokrasi ini?menangisi setiap sen yang terbuang untuk mengkampanyekan kepalsuan dan kebohongan publik?menangisi setiap perhatian yang diahlihkan dari derita porong sidoarjo, dari sekolah kandang ayam, dari tebang pilih? menangisi rakyat yang seakan tak punya pilihan lain..
Tak punya pilihan lain selain menipu diri, mengibur diri dengan mahluk halus setan dan kuntilanak yang memenuhi bioskop nusantara. Melarikan diri dari kenyataan bahwa penderitaan dan janji yang tak terpenuhi. Kasihan para kuntilanak, genderuwo, buto, pocong nusantara ini, tak lagi angker dan ditakuti, diturunkan derajatnya menjadi hiburan keluarga. Lebih menawarkan kepastian dan kenyamanan daripada memikirkan ulah sebagian wakil rakyat.
Minggu, 08 Maret 2009
Prologue in March
Inspired..and err.. some borrowed phrases from Shakespeare's Henry V courtship:
If I could win a lady with my eloquence, or by vaulting into my ornate life plans of never ending complexity,under the correction of bragging be it spoken, I should quickly leap into a wife. Or if I might write endless poems for my love, or bound all my talents for her favors.
I could talk people's ear off, and sing and dance like a troubadour.
But before God, my dear, I can't help look greenly, nor I can sustain my eloquence in your presence. Nor I have cunning enough in reserve; only preconceived meticulous plans, which failed me completely, wither in early exposure, trapped and exposed in your lovely questioning.
If thou canst love a fellow of this temperament, my dear. Whose face is not worth of raging female hormones, that never looks in his glass for utmost confidence of self manliness. Let thy eyes be temperate in judgment.
I speak of thee as my plain self; if thou canst learn to love me for this, take me; if not to say to thee that I shall mourn, is true; but for thy heart, God's willing! that love may grow.
And while thou livest my dear; take this fellow who seek his purpose of being everyday, too complicated it may seems, embracing concerns and dreams beyond his might; for he humbly seek the gift to do thee right. For gift of certainty he has but few; nor promises of infinite tongue can rhyme an offer that sums greater than the Creator's will.
A good brain will fall, a straight adulation will stoop; a casket overflowing with possessions may run dry, but a heart that is constant and true is like the sun, for it shines brightly in adversity. As joy and sorrows hands intertwined, a course as true in our Sovereign Creator's eyes.
If thou would have such a one, take me; take me, take the one whose weakness and strength intertwines and stretches for thy hands to unravels, to hold; take a man who dare not promise a life without pain, but with humility and tears be accountable to any offenses.
And what sayest thou, my fair friend
May my words not failed me, express my heart fairly, I pray thee
If I could win a lady with my eloquence, or by vaulting into my ornate life plans of never ending complexity,under the correction of bragging be it spoken, I should quickly leap into a wife. Or if I might write endless poems for my love, or bound all my talents for her favors.
I could talk people's ear off, and sing and dance like a troubadour.
But before God, my dear, I can't help look greenly, nor I can sustain my eloquence in your presence. Nor I have cunning enough in reserve; only preconceived meticulous plans, which failed me completely, wither in early exposure, trapped and exposed in your lovely questioning.
If thou canst love a fellow of this temperament, my dear. Whose face is not worth of raging female hormones, that never looks in his glass for utmost confidence of self manliness. Let thy eyes be temperate in judgment.
I speak of thee as my plain self; if thou canst learn to love me for this, take me; if not to say to thee that I shall mourn, is true; but for thy heart, God's willing! that love may grow.
And while thou livest my dear; take this fellow who seek his purpose of being everyday, too complicated it may seems, embracing concerns and dreams beyond his might; for he humbly seek the gift to do thee right. For gift of certainty he has but few; nor promises of infinite tongue can rhyme an offer that sums greater than the Creator's will.
A good brain will fall, a straight adulation will stoop; a casket overflowing with possessions may run dry, but a heart that is constant and true is like the sun, for it shines brightly in adversity. As joy and sorrows hands intertwined, a course as true in our Sovereign Creator's eyes.
If thou would have such a one, take me; take me, take the one whose weakness and strength intertwines and stretches for thy hands to unravels, to hold; take a man who dare not promise a life without pain, but with humility and tears be accountable to any offenses.
And what sayest thou, my fair friend
May my words not failed me, express my heart fairly, I pray thee
Langganan:
Komentar (Atom)
