Minggu, 08 Maret 2009

Menangisi keterwakilan

Jikalau setiap tetes airmata dapat mewakili setiap tusukan ke hati,
mengamati mereka yang berkata mewakiliku..kemana banjir kekecewaanku bisa ditampung?
Tuhan Yang Kuasa, Yang bertahta diatas semua yang berkuasa..masih sehatkah jiwaku? ketika aku mengharapkan sesuatu yang lebih? lebih dari dagelan politik yang memenuhi layar kaca dan sampah 'pilihlah aku!' berwarna warni dipinggir jalan?

Aku sadar bahwa semua berada dalam kedaulatanMu. Aku tahu bahwa tak ada yang terjadi tanpa sepengetahuanMu. Tuhan, setiap lembar ingatanku menangis untuk bangsaku. Terlalu sombongkah aku Tuhan? ketika aku berharap diwakili oleh mereka yang setidaknya memiliki sedikit kemampuan? kemampuan untuk menangis bersama rakyat yang diwakilinya?

Mimpi disiang bolongkah aku Tuhan? ketika aku mengharapkan kecerdasan emosional wakilku yang setidaknya lebih dari seorang anak yang berguling dilantai karena kemauannya tidak dituruti? Mabukkah aku Tuhan, ketika aku mengharapkan tokoh yang tidak berkosa kata pencitraan politik?tidak berkosakata preman?tetapi berkosa kata nurani?

Tuhan, sesak napasku melihat kemunafikan dan keangkuhan diagungkan. Saling mengaku sukses, devaluasi kecerdasan emosional bagaikan bukan manusia lagi. Jikalau ini yang harus kupilih, haruskah aku melupakan cita-cita luhur bangsa ini? Haruskah aku membakar dan memusnahkan setiap ingatan akan falsafah dan tujuan negara ini didirikan?

Dalam sudut pikiran yang terdalam, kutersenyum sinis dan pragmatis..ah kenapa susah?siapapun mahluk yang kupilih, takkan hadir dalam paripurna, suatu proses formalitas..suatu legalisasi penggunaan uang rakyat..memberi kemakmuran kepada yang lupa dengan rakyat. Amnesia total sepanjang tahun, hanya ingat setiap 5 tahun, ketika janji surgawi bertebaran bagaikan pasir ditepi pantai. Semerbak senyum dan topeng diri beraneka warna.

Tuhan mungkinkah lahir? setitik kebenaran yang murni?diantara janji-janji manis yang memenuhi langit nusantara? Dimanakah semangat para pendiri bangsa?seakan tak tersisa..ditengah lautan preman dan artis yang memenuhi senayan. Wakil rakyat telah menjadi profesi paling diminati dalam bursa kerja masa kini..segelintir tersisa yang mengingat misinya. Semakin tidak terdengar ditengah lautan teriakan kepentingan diri dan partai politik.

Tuhan masih mampukah kebenaran dan kejujuran menerobos?menerobos lumpur pekat kepentingan dan gerombolan partai yang tak ada habisnya?mungkinkah aku masih bisa melihat Sjahrir baru, Hatta baru..Baharrudin Lopa baru..Munir baru? Ketika mereka yang mewakili suara bangsaku masih berjuang mempertahankan nurani? ketika mereka yang bersuara memiliki kompetensi pemikiran yang lebih dari sekedar berorasi, loyalitas kepada partai politik dan diri?

Tuhan sampai kapan aku harus menangis?Gilakah aku jika hatiku menangis untuk pesta demokrasi ini?menangisi setiap sen yang terbuang untuk mengkampanyekan kepalsuan dan kebohongan publik?menangisi setiap perhatian yang diahlihkan dari derita porong sidoarjo, dari sekolah kandang ayam, dari tebang pilih? menangisi rakyat yang seakan tak punya pilihan lain..

Tak punya pilihan lain selain menipu diri, mengibur diri dengan mahluk halus setan dan kuntilanak yang memenuhi bioskop nusantara. Melarikan diri dari kenyataan bahwa penderitaan dan janji yang tak terpenuhi. Kasihan para kuntilanak, genderuwo, buto, pocong nusantara ini, tak lagi angker dan ditakuti, diturunkan derajatnya menjadi hiburan keluarga. Lebih menawarkan kepastian dan kenyamanan daripada memikirkan ulah sebagian wakil rakyat.

Tidak ada komentar: