Selasa, 12 Agustus 2008

moo-moo's self cow-templation...

Pentingkah saya? menurut siapa?
Buat kita yang begitu aktif melayani (19 September 2005)

Ijinkanlah saya mengajukan pertanyaan ini mewakili kita semua: bagaimanakah diri saya menilai dan melihat keberadaan diri dihadapan Allah? sejauh manakah saya melihat keberhasilan saya, peranan saya dalam hidup ini sebagai suatu standar untuk bagaimana manusia maupun Allah menilai diri saya? Saya melihat betapa pengertian yang salah akan keberadaan diri sendiri ini begitu menghancurkan kepekaan saya untuk mengenal kehendaknya.

Ketika saya melihat kebelakang, alangkah mudahnya saya mengatakan bahwa saya sudah melakukan banyak hal yang Tuhan mau. Ketika saya melayani, alangkah mudahnya bagi saya untuk secara tidak sadar merasakan betapa pentingnya kehadiran diri saya disuatu tempat. Saya percaya bahwa tidak ada yang kebetulan didalam hidup ini, jika semua berada dalam kehendakNya, adalah bagian dari kehendakNya pula jika saya hidup, saya melayani, dan saya berprestasi dibidang yang saya geluti saat ini. Entah itu pelayanan tertentu, pekerjaan tertentu, atau aktivitas tertentu. Ketika saya diberkati, ketika saya menjadi berkat, bolehkah saya berbangga bahwa saya menjadi saluran berkat bagi banyak orang?

Bangga? saya rasa bersyukur adalah kata yang seharusnya mewakili perasaan saya. Ketika saya merasa dibutuhkan, ketika saya merasa bahwa saya telah mengerjakan suatu pekerjaan besar, saya telah membuka kemungkinan akan kesombongan diri untuk tumbuh. Benarkah saya dibutuhkan?benarkah bahwa saya melakukan sesuatu yang begitu penting dan tidak bisa dilakukan orang lain?Pernahkah saya berkata..ah kalo tidak ada saya, siapa yang akan membereskan?Jika saya melihat dari kenyataan mata manusia maka jawaban saya bisa saja ya, tetapi ketika mata saya melihat kepada Allah yang saya layani, betapa celakanya saya untuk sedikitpun berpikir seperti itu.

Siapakah saya?siapakah Allah? segala pertemuan tokoh tokoh Kitab Suci dengan Allah secara langsung mencatat reaksi yang sama, kesadaran manusia betapa ngeri dan dahsyatnya perbedaan antara Allah dan manusia, betapa kemuliaan dan peranan manusia begitu hina dan tak berarti terhadap Allah dan kehendakNya.

3 When I observe Your heavens,the work of Your fingers,the moon and the stars,which You set in place,
4 what is man that You remember him,the son of man that You look after him? Psalm 8:3-4

Begitu banyak contoh didalam Kitab Suci, Paulus misalnya, memulai hampir seluruh surat pelayanannya dengan Paulus, hamba Kristus Yesus, dipanggil dan dikuduskan menjadi Rasul, yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul, yang menjadi rasul bukan oleh manusia melainkan Kristus. (perhatikan semuanya bentuk pasif dimana Allah yang berinisiatif) Saya gentar melihat betapa hamba Tuhan ini begitu mengerti keberadaan diriNya dihadapan Allah. Tidak pernah terpikir oleh Paulus untuk mengatakan bahwa apa yang dikerjakan dirinya adalah kebanggaannya secara pribadi. Saya berpikir, siapakah yang berhak untuk berbangga akan apa yang sudah dikerjakannya dalam hidup? jika ada orang yang berhak untuk mengatakan bahwa dia telah mengerjakan sesuatu yang begitu penting bagi Allah maka Paulus adalah orang semacam ini. Siapakah saya? berani- beraninya saya menempatkan diri saya seakan akan saya berharga dimata Allah oleh karena apa yang telah saya perbuat? Yesaya, salah seorang nabi besar,sudah melayani Allah ketika ia berjumpa dengan Allah yang duduk diatas tahtaNya, betapa jelas reaksinya: "celakalah aku, aku binasa!" suatu pemahaman secara esensi betapa najisnya dirinya dihadapan Allah, tidak ada secuilpun kebenaran dirinya, pelayanannya, jasanya yang bisa diandalkan dihadapan kemahakudusan Allah. Tidak ada sedikitpun didalam diri kita yang sedikitpun mendekati standar apa yang merupakan kehendak Allah, keselamatan merupakan totalitas Anugerah Allah, anugerah, sesuatu yang saya dan anda sampai kapanpun tidak pernah layak untuk menerimanya. Hanya karya penebusan Kristus yang membawa saya ke saat ini, DI-layakkan . Jika saya melayani Tuhan saat ini, apapun bentuknya, senekat apakah saya sehingga saya merasa bahwa Tuhan membutuhkan saya? Jika saya memiliki talenta yang istimewa, apakah tidak mungkin bagi Tuhan untuk memanggil siapapun untuk mengerjakan apa yang saya kerjakan, lebih baik dari apa yang saya kerjakan?

3 For by the grace given to me, I tell everyone among you not to think of himself more highly than he should think. Instead, think sensibly, as God has distributed a measure of faith to each one. Romans 12:3

1 When I came to you, brothers, announcing the testimony of God to you, I did not come with brilliance of speech or wisdom. 2 For I determined to know nothing among you except Jesus Christ and Him crucified. 3 And I was with you in weakness, in fear, and in much trembling. 4 My speech and my proclamation were not with persuasive words of wisdom, but with a demonstration of the Spirit and power, 5 so that your faith might not be based on men's wisdom but on God's power. I Corinthians 2:1-5
12 I give thanks to Christ Jesus our Lord, who has strengthened me, because He considered me faithful, appointing me to the ministry-- 13 one who was formerly a blasphemer, a persecutor, and a violent man. But I received mercy because I had acted ignorantly in unbelief, 14 and the grace of our Lord overflowed, along with the faith and love that are in Christ Jesus. 15 This saying is trustworthy and deserving of full acceptance: "Christ Jesus came into the world to save sinners"--and I am the worst of them. 16 But I received mercy because of this, so that in me, the worst of them, Christ Jesus might demonstrate the utmost patience as an example to those who would believe in Him for eternal life. I Timothy 1:12-16

Kini, jikalau saya ada sebagaimana saya ada, jikalau saya memiliki kesempatan dan kelebihan didalam hidup ini, siapakah saya? saya hanyalah manusia berdosa yang tidak layak menerima pengampunan, saya dengan segala kesuksesan saya, pelayanan saya, dan kebaikan saya tidak pernah mampu menghapuskan murka Allah akan keberdosaan saya. Jika, melalui anugerahNya, melalui Kristus Yesus saya kini boleh ditebus, dan penebusan ini membukakan jalan bagi hidup yang melayani, hidup yang menghasilkan sesuatu, siapakah saya?setiap nafas yang saya hirup dan apa yang bisa saya lakukan adalah anugerahNya.

Tuhan, biarlah didalam segala kesombongan dan kebanggaan yang mungkin hadir dalam hati, ingatkan saya, bahwa Tuhan tidak kurang berkuasa untuk membangkitkan yang lain, bahwa hanya karena kasih dan penebusanMu, saya boleh menjadi anak sekaligus rekan sekerjaMu.
Ajarkan saya untuk melihat sebagaimana hamba hambaMu disepanjang sejarah boleh melihat: melihat Engkau ya Allah, sebelum melihat dan mengerti diri.

lakon wayang bencana ala moo-moo

Wayang Kebersamaan (29 September 2006)

jreng..jreng..jreng bumi gonjang ganjing…bumi pertiwi sedang gonjang ganjing, tak putus dilanda bencana, tak ada hari tanpa dirundung duka. Sejak gempa Bantul yang begitu terkenal, masyarakat pecinta wayang asyik dengan lakon-lakon yang naik daun. Bagaikan artis yang muncul dalam kampanye partai politik, tokoh-tokoh pewayangan bermunculan. Tahun 80-an, Semar mendominasi perpolitikan partai terbesar. Dimasa kebersamaan bencana ini, Semar seakan lengser keprabon, walau bukan Semar sang punakawan yang kehilangan pamor dan lengser, tetapi tokoh yang merasa diri bak semar..eh..pinang dibelah dua. Semar seakan beristirahat dari wejangan-wejangannya, para punggawa dan adipati kerajaan semakin ngawur saja polahnya. Para dhalang harus memutar otak, kok lakon-lakon lama seperti tidak mengena? kok tidak mempan dan cespleng?

Gong berbunyi nyaring, senyaring omongan yang kosong pembuktiannya. weleh-weleh..akhirnya para dhalang sadar, pantes kok lakon Semar, Arjuna dan Bima agak pudar…pesenan para pejabat akan pentas wayang seret…ternyata tren sudah berbalik. Jaman posmodernisme sudah melanda selera para pejabat. Tokoh antagonis yang dulu jadi bulan-bulanan, kini malah mendapat simpati. Tokoh buto, cakil, gendheruwo kini menjadi simbol pemimpin yang 'kurang' dimengerti. Masa kebersamaan ini masa kejayaan antagonisme, dimana bathara Kala dan Buto Cakil lebih populer daripada Semar. Akhirnya, seorang dhalang yang kreatif menulis sebuah lakon. Menjelaskan dengan indah kekebalan Bathara Kala terhadap kritik. Lha habis bagaimana lagi? khan Bathara Guru sendiri memberikan Rajah Kalacakra di jidat Bathara Kala. Rajah ini ampuh membebaskan Bathara Kala dari ancaman segala bencana. Eeeeh inget penonton! yang bebas dari bencana itu hanya bathara Kala seorang! agar secara konsisten dia bisa menjalankan fungsinya sebagai juragan bencana. Katanya, ada mangsa yang sah dimakan oleh bathara Kala, atau begitulah menurut bathara Guru. Orang-orang yang ndak bener, salah kedaden, alias perusak dalam masyarakat. Konon kabarnya, bathara Guru dengan kalem manggut-manggut melihat sepak terjangnya, lha namanya membasmi orang yang ndak bener harus tegas, butuh yang langsung menelan gitu….susahnya, namanya saja bathara Kala, yang mau disantap, dibikin proyek dewi Sri, yang disantap seringkali malah pamong praja yang jujur.

neng..nong..neng..gung…waktu sudah dua tahun berlalu! memakan waktu, sepak terjang bathara Kala dikisahkan dengan memukau, penonton melotot dan menggelengkan kepala..terpukau akan dramatisasi sang dhalang. Tidak seperti menonton lakon yang lain, penonton riuh berteriak, tertusuk hati yang terdalam, tercengang akan demonstrasi rasa malu yang salah konteks, dan rasa tidak tahu
malu yang tidak pernah kelihatan. Kagum rasanya akan lakon ini..tidak seperti Arjuna yang butuh wejangan Kresna untuk berperang, selalu yakin dan 'tak pernah' salah. Memang lain kualitas kepercayaan dirinya, begitu murni dan tidak perlu introspeksi diri yang tak berguna. Memakan matahari menelan rembulan, puantes kok menjadi rakyat terasa gelap...gelap masa depan, gelap keadilan. Inilah konsep kepemimpinan masa depan, memakan waktu 3 tahun lagi! Tak lama lagi, akan terjadi perang di kahyangan..para buto, cakil, gendheruwo dan tuyul curi start gentayangan, sibuk mendistribusikan upeti politik. Musik bertalu-talu semakin cepat, akankah bathara Guru kehilangan singgasananya? penonton menahan napas tegang...kearah mana lakon ini akan berlanjut? kok para satrya diem-diem saja? ah susah jadi satrya jaman begini, lha para adipati dan tumenggung juga doyan hasil santapan yang sama. Buto Cakil main lumpur, tuyul main jalanan. jreng..jreng..jreng..bumi gonjang ganjing...

merenungkan nasib guru ditahun 2005

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa (16 Desember 2005)

Seminggu telah berlalu, sejak penulis membongkar laci- laci, mengeluarkan apa yang sudah dibungkus sebagai kenangan masa lalu. Impian idealisme Reformasi 7 tahun silam. Lagu Perahu Retak Franky kembali berkumandang, puisi- puisi mengiris telinga karya seorang Emha Ainun Nadjib pun kembali mendapat tempat dalam hati. Entah kenapa, hati dan intuisi sudah mendahului rasio. Lagu- lagu kutukan terhadap ketidakadilan dan arogansi kekuasaan Orde Baru kembali manis terdengar ditelinga. Penulis menjerit, melihat re-orde-baru-isasi dan de-reformasi-sasi, bagaikan bintang buas yang sudah berhasil dibius, monster ideologis Orde Baru yang dipelihara dan disayang. Tidak dimusnahkan atau dibunuh, tetapi dipuji-puji dan diberi vitamin. Siap untuk ditunggangi oleh arogansi kekuasaan yang baru.

Hari hari tak pernah berlalu, tanpa komentar arogansi kekuasaan yang memuakkan. Kritik ditanggapi dengan premanisme, peringatan selalu dianggap berlebihan, dan jalan jalan studi banding keluar negeri berjalan terus. Menjelang akhir tahun ijinkanlah penulis menyanyikan lagu 'Perahu Retak' sebagai ganti 'Selamat Tahun Baru'. Sebuah lagu cinta untuk rakyat dan bangsa yang semakin pakar dalam menahan kesakitan dan penderitaan. Peternak- peternak di Jawa tengah, yang dengan kreatif menentukan prioritas. Memakan makanan milik ternak mereka…setelah Bantuan Langsung Tunai ditunaikan, ayam unggaspun mewakili kebersamaan. Kebersamaan dalam Flu Burung dan kebersamaan dalam puasa ala kenaikan BBM.

Perahu negeriku, perahu bangsaku, menyusuri gelombang…
Semangat rakyatku, kibar benderaku, menyeruak lautan…
Aku heran, aku heran, Yang salah dipertahankan…
Aku heran, aku heran, Yang benar disingkirkan…
Perahu negeriku, perahu bangsaku, jangan retak dindingmu…
Tanah Pertiwi anugerah Ilahi, Jangan makan sendiri…
(Perahu Retak, lirik: Emha Ainun Nadjib)

Humaniora surat kabar menyorot kemiskinan pendidikan sebagai penyebab utama keterpurukan bangsa. Kemiskinan pendidikan buah bibir slogan kampanye, kenyataan neraka dihapus janji-janji surga. Ah kaum pendidik, kaum guru! Pahlawan tanpa tanda jasa, pahlawan tanpa gaji yang layak, tanpa masa depan yang jelas…kesabaran yang luar biasa telah kalian tunjukkan, dari tahun ke tahun, dari janji palsu ke janji palsu yang lain. Kritik dan tagihan secara puitis telah kalian sajikan…menuai reaksi yang sangat tidak puitis maupun etis. Dimanakah realisasi janji jika arogansi tunggal separuh dari dwitunggal menyesakkan nafas?
Apa artinya bertugas mulia
Ketika kami hanya terpinggirkan tanpa ditanya, tanpa disapa.
Kapan sekolah kami lebih dari kandang ayam.
Sejuta batu nisan guru tua yang terlupakan oleh sejarah
terbaca torehan darah kering.
Disini terbaring seorang guru,
semampu membaca bungkus sambil belajar menahan lapar;
Hidup sebulan dari gaji sehari
(Puisi "Sekolah Kandang Ayam" oleh Winarno Surakhmad)

RUU Guru-Dosen yang penuh kehalusan, begitu halus penuh kemungkinan interpretatif, ciri khas produk wakil rakyat kita, membuka peluang sebesar-besarnya untuk 'penyesuaian' dikemudian hari. 64,7 persen rakyat negeri yang kaya ini hanya mengecap bangku SD, yang sebagian beratapkan langit biru, berdiding kayu bakar, belajar sambil bercengkerama dengan bangsa ayam yang menjadi terkenal setelah kaum guru digurui didepan publik. Pemutarbalikan sejarah kembali digalakkan, segala bentuk re-soehartoisasi dan re-de-soekarnoisasi…mengapa tidak?mumpung masih ada kesempatan melanjutkan pembodohan bangsa ini. Bangsa yang bodoh mudah dikendalikan, tak peka dengan arogansi kekuasaan dan keserakahan angkaramurka sebagian pemimpinnya. Arogansi kekuasaan ini berlanjut, ketika pemimpin-pemimpin bangsa bereaksi terhadap berita kelaparan rakyatnya dengan bogem mentah. Ketika yang tak pantas mendidik menggurui kaum pendidik, mungkin sudah waktunya bagi penulis untuk membuang lagu Perahu Retak…lagu ini sudah tak mampu lagi menjawab kegelisahan hati nurani…Perahu Bangsaku bukan hanya retak dindingnya, perahu bangsaku bagaikan kerangka-kerangka putih yang terbaring dibawah batu-batu nisan guru-guru tua, yang terlupakan oleh sejarah. Bangsa ini dengan sistematis berusaha untuk tidak belajar dari sejarah, memanipulasi sejarah, dan dengan arogan mengulang kesalahan yang dibuat oleh sejarah. Dari hari ke hari, penulis melihat reformasi yang berjalan mundur. Arogansi kekuasaan yang tak ada bedanya dengan puncak ketidakadilan Orde Baru…atau..ah..mungkin penulis salah..setidaknya arogansi kekuasaan yang terdahulu dibalut dengan atribut-atribut tradisi yang halus dan sopan…senyuman yang menawan..bukan hantam kromo pendekar silat…resistensi politik, hujatan politik berdatangan terhadap kurikulum yang menyajikan sejarah sebagaimana adanya. Atribut- atribut stigmatisasi khas Orde Baru didaur ulang dengan penuh kesombongan…bahaya laten PKI! Pegawai Negeri Sipil yang berpolitik! 'dwifungsi' pengusaha dan pemerintah…

Penulis dengan hati pedih, membaca dan menonton guru yang digurui. Kenangan membawa penulis kepada Pak Y, ibu M, dua guru sekolah dasar yang meninggalkan mutiara yang begitu berharga dalam hati penulis, ibu K, ibu H, Pak H dari masa masa SMP dan masih banyak lagi…sebagian sudah lama menutup mata dalam kesederhanaan. Kesederhanaan yang tak sebanding dengan mutiara yang ditinggalkan. Kesederhanaan dan teladan pengabdian yang tak perlu dipublikasikan tetapi menyentuh banyak jiwa. Ketidakcukupan tidak menghalangi mereka, untuk meninggalkan batu-batu karakter dan integritas dalam perjalanan hidup penulis. Teladan itu juga yang mendorong penulis menelusuri jalan hidup yang sama.

Lahirlah, lahirlah, lahir kembali
Bangunlah, bangunlah, bangun kembali
Mengumpulkan kepingan-kepingan
Saudaramu yang ditinggalkan kemajuan…
(Padang Bulan, lirik: Emha Ainun Nadjib)

Ibu M, ibu K, ibu H, Pak H, betapa penulis bersyukur anda tidak harus mendengar arogansi kekuasaan! Tak terbayang kepedihan yang bisa ditimbulkan bagi kalian yang menghabiskan seluruh hidup mendidik orang lain. Janganlah sedih, beristirahatlah dengan tenang, dipangkuan Ilahi yang Maha Tahu. Yang selalu menghargai, yang selalu peka terhadap jeritan mereka yang mencari HadiratNya. Penguasa diatas segala penguasa yang tidak arogan, tidak menarik asumsi. Ijinkanlah kami yang masih muda dan belum teruji ini, melanjutkan bakti kalian…sampai pada satu impian jauh didepan, saat ketika guru bukan lagi sekedar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, tetapi benar benar diperlakukan sebagai pahlawan ditengah bangsa ini.

Kalau (moo-moo) Boleh Mimpi...


Kalau Boleh Mimpi
(10 Oktober 2006)


Dalam mimpi, penulis terlena dikelilingi bunga indah itikad baik, bunga hati nurani. Berbaring di padang rumput keluhuran budi yang menghijau, disejukkan oleh angin sepoi-sepoi bearoma kepemimpinan. Di ujung mata memandang terlihat cakrawala merona memukau, matahari pengharapan bangsaku mengintip di ufuk timur. Teringat lagu nan indah, Nyiur Hijau, lukisan keindahan negeri tercinta.

Penulis tersentak kaget dan merasa basah, aduh ternyata cuma mimpi! Mimpi karena hanya membaca judul artikel dan bukan isi, mimpi karena terlalu lugu, mengira pemimpin-tengkulak bisa berubah. Dimanakah bunga-bunga indah didalam mimpi? Penulis dikelilingi oleh kotoran sampah yang tidak terangkut, bunga retorika palsu dan macan kertas yang lusuh. Penulis berbaring ditengah luapan lumpur panas yang menyengat, berkeringat dibawah angin politik beraroma pebisnis bencana. Mata berlinang air mata, menangisi terbenamnya negeriku, terbenam dalam lautan lumpur keputusasaan dan terhilang ditengah kepulan asap hutan yang dibakar.

Penulis bermimpi, bermimpi ditinggikannya keluhuran bangsa. Keramahan dan sopan santun yang menyejukkan dunia. Hamparan adat istiadat yang saling menghargai, malu ketika tak bermoral, maafkan ketika menyinggung. Indahnya pemandangan negeriku! gunung-gunung pencapaian budaya lestari dan menjulang, lautan keanekaragaman dengan lembut menyongsong pantai. Penulis terbangun dan terperosok, kedalam lubang-lubang anarkisme dan fundamentalisme bangsa. Keberingasan dan kebencian yang membutakan. Hamparan rekayasa pertikaian agama yang dibisniskan, malu untuk sukuisme dan tak punya malu bermoral bejat sambil memimpin bangsa. Menyedihkannya pemandangan negeriku! gunung-gunung korupsi lestari dan menjulang, lautan keanekaragaman kreativitas kebejatan tiba setiap saat.

Penulis ingin meneruskan mimpi, menikmati mimpi dan mengesampingkan kesadaran. Menikmati bunga bunga teladan kepemimpinan bangsa, terwujud hanya sebatas mimpi.
Penulis ingin tetap bermimpi, menyaksikan sambutan yang hangat dari berbagai bangsa, dikenal karena etika, bukan kebejatan dan kerusuhan, dikenal karena ekspor kebudayaan, bukan ekspor asap dan bencana. Penulis bermimpi, bertemu warga mancanegara, menerangkan dengan bangga, keindahan negeri tercinta. Bukan disuruh copot sepatu, bukan digeledah kopor, warga negara penghasil teroris.

Penulis ingin mengubah mimpi, mengasapi sebagian besar pemimpin bangsa yang palsu. Mengasapi bathara Kala, genderuwo dan buto cakil. Siapa tahu masih ada pembela rakyat sejati? Mengoleskan lumpur perawatan muka Lapindo, mempertegas rona keangkaramurkaan yang tertutup topeng kepemimpinan. Aduh! sayang cuma mimpi...

Introducing moo-moo

Dear all, melihat kesibukan saat ini, sungguh tak jelas nasib blog moo-moo ini. Mampukah bertahan?atau akan lenyap seperti pendahulunya? well, namanya saja moo-moo, alter ego penulis yang ingin bertahan idealis ini. Apa daya waktu tak punya, keseriusan blog terdahulu berakhir tragis, sejalan dengan kepala yang selalu pusing sepulang kerja. moo-moo mencoba lebih santai, menggabungkan curhat berat dengan curhat ringan. Setelah hampir setahun tidak menulis, moo-moo mulai mengkhawatirkan kesehatan mentalnya. Demi reputasi moo-moo sebagai sapi..eeh..individu yang suka berpikir.. sambutlah kehadirannya kembali!