Selasa, 12 Agustus 2008

merenungkan nasib guru ditahun 2005

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa (16 Desember 2005)

Seminggu telah berlalu, sejak penulis membongkar laci- laci, mengeluarkan apa yang sudah dibungkus sebagai kenangan masa lalu. Impian idealisme Reformasi 7 tahun silam. Lagu Perahu Retak Franky kembali berkumandang, puisi- puisi mengiris telinga karya seorang Emha Ainun Nadjib pun kembali mendapat tempat dalam hati. Entah kenapa, hati dan intuisi sudah mendahului rasio. Lagu- lagu kutukan terhadap ketidakadilan dan arogansi kekuasaan Orde Baru kembali manis terdengar ditelinga. Penulis menjerit, melihat re-orde-baru-isasi dan de-reformasi-sasi, bagaikan bintang buas yang sudah berhasil dibius, monster ideologis Orde Baru yang dipelihara dan disayang. Tidak dimusnahkan atau dibunuh, tetapi dipuji-puji dan diberi vitamin. Siap untuk ditunggangi oleh arogansi kekuasaan yang baru.

Hari hari tak pernah berlalu, tanpa komentar arogansi kekuasaan yang memuakkan. Kritik ditanggapi dengan premanisme, peringatan selalu dianggap berlebihan, dan jalan jalan studi banding keluar negeri berjalan terus. Menjelang akhir tahun ijinkanlah penulis menyanyikan lagu 'Perahu Retak' sebagai ganti 'Selamat Tahun Baru'. Sebuah lagu cinta untuk rakyat dan bangsa yang semakin pakar dalam menahan kesakitan dan penderitaan. Peternak- peternak di Jawa tengah, yang dengan kreatif menentukan prioritas. Memakan makanan milik ternak mereka…setelah Bantuan Langsung Tunai ditunaikan, ayam unggaspun mewakili kebersamaan. Kebersamaan dalam Flu Burung dan kebersamaan dalam puasa ala kenaikan BBM.

Perahu negeriku, perahu bangsaku, menyusuri gelombang…
Semangat rakyatku, kibar benderaku, menyeruak lautan…
Aku heran, aku heran, Yang salah dipertahankan…
Aku heran, aku heran, Yang benar disingkirkan…
Perahu negeriku, perahu bangsaku, jangan retak dindingmu…
Tanah Pertiwi anugerah Ilahi, Jangan makan sendiri…
(Perahu Retak, lirik: Emha Ainun Nadjib)

Humaniora surat kabar menyorot kemiskinan pendidikan sebagai penyebab utama keterpurukan bangsa. Kemiskinan pendidikan buah bibir slogan kampanye, kenyataan neraka dihapus janji-janji surga. Ah kaum pendidik, kaum guru! Pahlawan tanpa tanda jasa, pahlawan tanpa gaji yang layak, tanpa masa depan yang jelas…kesabaran yang luar biasa telah kalian tunjukkan, dari tahun ke tahun, dari janji palsu ke janji palsu yang lain. Kritik dan tagihan secara puitis telah kalian sajikan…menuai reaksi yang sangat tidak puitis maupun etis. Dimanakah realisasi janji jika arogansi tunggal separuh dari dwitunggal menyesakkan nafas?
Apa artinya bertugas mulia
Ketika kami hanya terpinggirkan tanpa ditanya, tanpa disapa.
Kapan sekolah kami lebih dari kandang ayam.
Sejuta batu nisan guru tua yang terlupakan oleh sejarah
terbaca torehan darah kering.
Disini terbaring seorang guru,
semampu membaca bungkus sambil belajar menahan lapar;
Hidup sebulan dari gaji sehari
(Puisi "Sekolah Kandang Ayam" oleh Winarno Surakhmad)

RUU Guru-Dosen yang penuh kehalusan, begitu halus penuh kemungkinan interpretatif, ciri khas produk wakil rakyat kita, membuka peluang sebesar-besarnya untuk 'penyesuaian' dikemudian hari. 64,7 persen rakyat negeri yang kaya ini hanya mengecap bangku SD, yang sebagian beratapkan langit biru, berdiding kayu bakar, belajar sambil bercengkerama dengan bangsa ayam yang menjadi terkenal setelah kaum guru digurui didepan publik. Pemutarbalikan sejarah kembali digalakkan, segala bentuk re-soehartoisasi dan re-de-soekarnoisasi…mengapa tidak?mumpung masih ada kesempatan melanjutkan pembodohan bangsa ini. Bangsa yang bodoh mudah dikendalikan, tak peka dengan arogansi kekuasaan dan keserakahan angkaramurka sebagian pemimpinnya. Arogansi kekuasaan ini berlanjut, ketika pemimpin-pemimpin bangsa bereaksi terhadap berita kelaparan rakyatnya dengan bogem mentah. Ketika yang tak pantas mendidik menggurui kaum pendidik, mungkin sudah waktunya bagi penulis untuk membuang lagu Perahu Retak…lagu ini sudah tak mampu lagi menjawab kegelisahan hati nurani…Perahu Bangsaku bukan hanya retak dindingnya, perahu bangsaku bagaikan kerangka-kerangka putih yang terbaring dibawah batu-batu nisan guru-guru tua, yang terlupakan oleh sejarah. Bangsa ini dengan sistematis berusaha untuk tidak belajar dari sejarah, memanipulasi sejarah, dan dengan arogan mengulang kesalahan yang dibuat oleh sejarah. Dari hari ke hari, penulis melihat reformasi yang berjalan mundur. Arogansi kekuasaan yang tak ada bedanya dengan puncak ketidakadilan Orde Baru…atau..ah..mungkin penulis salah..setidaknya arogansi kekuasaan yang terdahulu dibalut dengan atribut-atribut tradisi yang halus dan sopan…senyuman yang menawan..bukan hantam kromo pendekar silat…resistensi politik, hujatan politik berdatangan terhadap kurikulum yang menyajikan sejarah sebagaimana adanya. Atribut- atribut stigmatisasi khas Orde Baru didaur ulang dengan penuh kesombongan…bahaya laten PKI! Pegawai Negeri Sipil yang berpolitik! 'dwifungsi' pengusaha dan pemerintah…

Penulis dengan hati pedih, membaca dan menonton guru yang digurui. Kenangan membawa penulis kepada Pak Y, ibu M, dua guru sekolah dasar yang meninggalkan mutiara yang begitu berharga dalam hati penulis, ibu K, ibu H, Pak H dari masa masa SMP dan masih banyak lagi…sebagian sudah lama menutup mata dalam kesederhanaan. Kesederhanaan yang tak sebanding dengan mutiara yang ditinggalkan. Kesederhanaan dan teladan pengabdian yang tak perlu dipublikasikan tetapi menyentuh banyak jiwa. Ketidakcukupan tidak menghalangi mereka, untuk meninggalkan batu-batu karakter dan integritas dalam perjalanan hidup penulis. Teladan itu juga yang mendorong penulis menelusuri jalan hidup yang sama.

Lahirlah, lahirlah, lahir kembali
Bangunlah, bangunlah, bangun kembali
Mengumpulkan kepingan-kepingan
Saudaramu yang ditinggalkan kemajuan…
(Padang Bulan, lirik: Emha Ainun Nadjib)

Ibu M, ibu K, ibu H, Pak H, betapa penulis bersyukur anda tidak harus mendengar arogansi kekuasaan! Tak terbayang kepedihan yang bisa ditimbulkan bagi kalian yang menghabiskan seluruh hidup mendidik orang lain. Janganlah sedih, beristirahatlah dengan tenang, dipangkuan Ilahi yang Maha Tahu. Yang selalu menghargai, yang selalu peka terhadap jeritan mereka yang mencari HadiratNya. Penguasa diatas segala penguasa yang tidak arogan, tidak menarik asumsi. Ijinkanlah kami yang masih muda dan belum teruji ini, melanjutkan bakti kalian…sampai pada satu impian jauh didepan, saat ketika guru bukan lagi sekedar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, tetapi benar benar diperlakukan sebagai pahlawan ditengah bangsa ini.

Tidak ada komentar: