Selasa, 12 Agustus 2008

Kalau (moo-moo) Boleh Mimpi...


Kalau Boleh Mimpi
(10 Oktober 2006)


Dalam mimpi, penulis terlena dikelilingi bunga indah itikad baik, bunga hati nurani. Berbaring di padang rumput keluhuran budi yang menghijau, disejukkan oleh angin sepoi-sepoi bearoma kepemimpinan. Di ujung mata memandang terlihat cakrawala merona memukau, matahari pengharapan bangsaku mengintip di ufuk timur. Teringat lagu nan indah, Nyiur Hijau, lukisan keindahan negeri tercinta.

Penulis tersentak kaget dan merasa basah, aduh ternyata cuma mimpi! Mimpi karena hanya membaca judul artikel dan bukan isi, mimpi karena terlalu lugu, mengira pemimpin-tengkulak bisa berubah. Dimanakah bunga-bunga indah didalam mimpi? Penulis dikelilingi oleh kotoran sampah yang tidak terangkut, bunga retorika palsu dan macan kertas yang lusuh. Penulis berbaring ditengah luapan lumpur panas yang menyengat, berkeringat dibawah angin politik beraroma pebisnis bencana. Mata berlinang air mata, menangisi terbenamnya negeriku, terbenam dalam lautan lumpur keputusasaan dan terhilang ditengah kepulan asap hutan yang dibakar.

Penulis bermimpi, bermimpi ditinggikannya keluhuran bangsa. Keramahan dan sopan santun yang menyejukkan dunia. Hamparan adat istiadat yang saling menghargai, malu ketika tak bermoral, maafkan ketika menyinggung. Indahnya pemandangan negeriku! gunung-gunung pencapaian budaya lestari dan menjulang, lautan keanekaragaman dengan lembut menyongsong pantai. Penulis terbangun dan terperosok, kedalam lubang-lubang anarkisme dan fundamentalisme bangsa. Keberingasan dan kebencian yang membutakan. Hamparan rekayasa pertikaian agama yang dibisniskan, malu untuk sukuisme dan tak punya malu bermoral bejat sambil memimpin bangsa. Menyedihkannya pemandangan negeriku! gunung-gunung korupsi lestari dan menjulang, lautan keanekaragaman kreativitas kebejatan tiba setiap saat.

Penulis ingin meneruskan mimpi, menikmati mimpi dan mengesampingkan kesadaran. Menikmati bunga bunga teladan kepemimpinan bangsa, terwujud hanya sebatas mimpi.
Penulis ingin tetap bermimpi, menyaksikan sambutan yang hangat dari berbagai bangsa, dikenal karena etika, bukan kebejatan dan kerusuhan, dikenal karena ekspor kebudayaan, bukan ekspor asap dan bencana. Penulis bermimpi, bertemu warga mancanegara, menerangkan dengan bangga, keindahan negeri tercinta. Bukan disuruh copot sepatu, bukan digeledah kopor, warga negara penghasil teroris.

Penulis ingin mengubah mimpi, mengasapi sebagian besar pemimpin bangsa yang palsu. Mengasapi bathara Kala, genderuwo dan buto cakil. Siapa tahu masih ada pembela rakyat sejati? Mengoleskan lumpur perawatan muka Lapindo, mempertegas rona keangkaramurkaan yang tertutup topeng kepemimpinan. Aduh! sayang cuma mimpi...

Tidak ada komentar: