Wayang Kebersamaan (29 September 2006)
jreng..jreng..jreng bumi gonjang ganjing…bumi pertiwi sedang gonjang ganjing, tak putus dilanda bencana, tak ada hari tanpa dirundung duka. Sejak gempa Bantul yang begitu terkenal, masyarakat pecinta wayang asyik dengan lakon-lakon yang naik daun. Bagaikan artis yang muncul dalam kampanye partai politik, tokoh-tokoh pewayangan bermunculan. Tahun 80-an, Semar mendominasi perpolitikan partai terbesar. Dimasa kebersamaan bencana ini, Semar seakan lengser keprabon, walau bukan Semar sang punakawan yang kehilangan pamor dan lengser, tetapi tokoh yang merasa diri bak semar..eh..pinang dibelah dua. Semar seakan beristirahat dari wejangan-wejangannya, para punggawa dan adipati kerajaan semakin ngawur saja polahnya. Para dhalang harus memutar otak, kok lakon-lakon lama seperti tidak mengena? kok tidak mempan dan cespleng?
Gong berbunyi nyaring, senyaring omongan yang kosong pembuktiannya. weleh-weleh..akhirnya para dhalang sadar, pantes kok lakon Semar, Arjuna dan Bima agak pudar…pesenan para pejabat akan pentas wayang seret…ternyata tren sudah berbalik. Jaman posmodernisme sudah melanda selera para pejabat. Tokoh antagonis yang dulu jadi bulan-bulanan, kini malah mendapat simpati. Tokoh buto, cakil, gendheruwo kini menjadi simbol pemimpin yang 'kurang' dimengerti. Masa kebersamaan ini masa kejayaan antagonisme, dimana bathara Kala dan Buto Cakil lebih populer daripada Semar. Akhirnya, seorang dhalang yang kreatif menulis sebuah lakon. Menjelaskan dengan indah kekebalan Bathara Kala terhadap kritik. Lha habis bagaimana lagi? khan Bathara Guru sendiri memberikan Rajah Kalacakra di jidat Bathara Kala. Rajah ini ampuh membebaskan Bathara Kala dari ancaman segala bencana. Eeeeh inget penonton! yang bebas dari bencana itu hanya bathara Kala seorang! agar secara konsisten dia bisa menjalankan fungsinya sebagai juragan bencana. Katanya, ada mangsa yang sah dimakan oleh bathara Kala, atau begitulah menurut bathara Guru. Orang-orang yang ndak bener, salah kedaden, alias perusak dalam masyarakat. Konon kabarnya, bathara Guru dengan kalem manggut-manggut melihat sepak terjangnya, lha namanya membasmi orang yang ndak bener harus tegas, butuh yang langsung menelan gitu….susahnya, namanya saja bathara Kala, yang mau disantap, dibikin proyek dewi Sri, yang disantap seringkali malah pamong praja yang jujur.
neng..nong..neng..gung…waktu sudah dua tahun berlalu! memakan waktu, sepak terjang bathara Kala dikisahkan dengan memukau, penonton melotot dan menggelengkan kepala..terpukau akan dramatisasi sang dhalang. Tidak seperti menonton lakon yang lain, penonton riuh berteriak, tertusuk hati yang terdalam, tercengang akan demonstrasi rasa malu yang salah konteks, dan rasa tidak tahu
malu yang tidak pernah kelihatan. Kagum rasanya akan lakon ini..tidak seperti Arjuna yang butuh wejangan Kresna untuk berperang, selalu yakin dan 'tak pernah' salah. Memang lain kualitas kepercayaan dirinya, begitu murni dan tidak perlu introspeksi diri yang tak berguna. Memakan matahari menelan rembulan, puantes kok menjadi rakyat terasa gelap...gelap masa depan, gelap keadilan. Inilah konsep kepemimpinan masa depan, memakan waktu 3 tahun lagi! Tak lama lagi, akan terjadi perang di kahyangan..para buto, cakil, gendheruwo dan tuyul curi start gentayangan, sibuk mendistribusikan upeti politik. Musik bertalu-talu semakin cepat, akankah bathara Guru kehilangan singgasananya? penonton menahan napas tegang...kearah mana lakon ini akan berlanjut? kok para satrya diem-diem saja? ah susah jadi satrya jaman begini, lha para adipati dan tumenggung juga doyan hasil santapan yang sama. Buto Cakil main lumpur, tuyul main jalanan. jreng..jreng..jreng..bumi gonjang ganjing...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar