Jumat, 05 September 2008
memilih politikus yang bukan poli(banyak)-tikus
Asal Mula Politikus Indonesia: the origin of species (9 Februari 2006)
Bangsa ini telah 65 tahun berpolitik sebagaimana yang kita nikmati setiap hari, melahirkan politikus politikus ulung dari jaman ke jaman. Ada sebagian orang berkata, politik itu jorok dan tak kenal kejujuran, ada juga yang sampai tega berpendapat, sebagaimana kertas tisu toilet itu perlu dipakai dan langsung dibuang, demikianlah politikus. Perlu untuk membersihkan hal-hal yang jorok, sendiri tercemari dan segera harus dibuang ke lubang toilet. Aduuh, masak sih selalu harus seperti itu? Sebagai bangsa yang 'kadang' mendistorsikan atau melupakan sejarah, kita toh tetap sedikit banyak ingat. Kalo tidak salah...dulu banyak juga politikus ulung yang tidak berakhir mengenaskan atau memalukan seperti sekarang. Konon kisahnya, politikus ulung dan raja-raja besar Nusantara, benar-benar 'lengser keprabon' (bukan terpaksa lho) setelah mencapai jaman keemasannya. Wibawanya tetap!...suaranya...bagaikan petuah bertatahkan intan permata. Sampai wafatnya, mereka dikenang dan ditangisi rakyat yang pernah diayomi. Jasanya dan dedikasinya dikenang dalam buku-buku pelajaran sejarah (setidaknya kalau tidak dihapus oleh penggantinya yang sirik). Nah..yang heran, sumber daya manusia politik bangsa ini mengalami devolusi dari tahun ke tahun. Seiring dengan bertambahnya populasi bangsa, kelangkaan-kepunahan integritas, kejujuran, teladan semakin kronis. Penulis terheran-heran, betapa konsisten bobroknya politikus masa kini. Selain selingan segelintir orang idealis kepepet (yang biasanya mati muda karena stres, penyakit misterius dan racun arsenik), bau busuk dunia politik bangsa ini sudah bagaikan tempat penampungan akhir. Setelah berpuasa menulis dalam rangka meng-amin-i setitik optimisme ditahun yang baru, penulis terserang gatal-gatal kembali akibat pemberitaan media. Bagaikan psikologi perkembangan membagi tahap perkembangan manusia kedalam tahapan-tahapan umur yang jelas, marilah kita menganalisa bagaimana sebagian politikus-politikus kita dibesarkan.
Dimanakah sebagian besar bayi politikus terkini bangsa ini lahir? Apa bedanya dengan politikus-negarawan jaman dahulu kala? Didalam konteks lingkungan keluarga semacam apa Sang Bayi Politikus lahir? Gaya hidup semacam apa dan status sosial semacam apa? Yuk..kita telusuri..
Balada Bayi Dinasti Politik
Yang pertama adalah Bayi dinasti politik, bayi-bayi ini dilahirkan ditengah keluarga yang secara turun temurun menjadi pemain dalam panggung politik bangsa, sejak lahir, ASI penuh vitamin politik sudah dicerna, dibesarkan dengan mengenal kehidupan terkenal keluarganya. Bayi Dinasti Politikpun ada dua macam, Dinasti yang sedang berkuasa dan yang pernah (alias sudah digusur) berkuasa. Yang satu camilannya adalah kekuasaan dan kebebasan berbuat apa saja, sedang yang satu lagi penghinaan, pengucilan (tapi masih punya duit sisa korupsi), kegetiran dan motivasi untuk membalas. Trik-trik bermusyawarah untuk mufakat sudah mendarah daging, disertai kemampuan alamiah bernegosiasi dibelakang layar. Masa balita indah diteruskan dengan masa remaja yang penuh percaya diri. Belajar arti sebuah nama keluarga, tak pernah salah tak pernah perlu bertanggungjawab. Adukan segalanya kepada ortu maka celakalah siapapun yang berani mengatakan engkau salah. Intimidasi, merek merek mewah dan pesta mengiringi. Sekolah apa gunanya? Kekuasaan dan surat sakti, kebal hukum hasilnya. Belajar menyuarakan pendapat, belajar berdalih didepan publik, semua itu hanya berkah yang diatas, sudah sewajarnya jika kita memperoleh segalanya. Latihan senyum politik, yang menyejukkan hati rakyat, latihan berkata arif, lain dihati lain dimulut.
Balada Bayi Tokoh Agama
Bayi yang secara otomatis dalam bangsa yang (katanya) religius ini, terjamin masa depan politiknya. Sebagai bangsa yang berketuhanan, tak ada yang lebih ampuh daripada status keagamaan untuk terjun kedalam dunia politik. Pendidikan, kesantunan dan visi yang jelas bagi masa depan bangsa disusulkan kalau perlu saja. Nama besar tokoh agama, gelar religius dan dukungan ormas keagamaan bagaikan ilmu sakti anti kritik. Bagaimana tidak, mengkritik tokoh agama diidentikkan dengan mengkritik ajaran agamanya. Keangkeran dan rasa hormat, belajar bagaimana mendua hati. Jikalau ingin sesuatu, katakan saja bahwa itu kehendak Yang Kuasa! Toh selalu menjadi penyambung lidah Yang Kuasa. Biasakan berbicara dengan ayat-ayat suci, lancar berkata-kata luhur, niscaya kuasa datang dengan sendirinya. Tak usah belajar ilmu apapun, ilmu menafsir dan ilmu memutarbalikkan ajaran saja sudahlah cukup. Ilmu apapun, rasio apapun, logika apapun tidak laku jika berhadapan dengan apa yang dikatakan 'sabda' mahakuasa.
Balada Bayi Tengkulak
Mereka yang lahir dalam keluarga pedagang atau tengkulak, yang sejak kecil menikmati susu kaleng hasil kongsi orangtuanya dengan pejabat dan aparat. Kata pertamanya berhubungan dengan uang, dan hidupnya ditujukan untuk uang. Halal haram bukan masalah, keyakinan akheratpun bisa disesuaikan, asal untung didunia. Masa remaja semakin mengkonfirmasi, uang menyelesaikan segalanya, sogok menyogok itu biasa, toh wajar saja didalam bangsa ini. Manipulasi dan penimbunan tak usah susah, toh yang namanya dagang hukumnya selalu harus untung.
Balada Bayi Selebritis
Mereka yang dilahirkan nan rupawan. Ganteng dan cantik dengan orangtua yang penuh ambisi, seluruh detik kehidupannya diabadikan oleh kamera, sejak kecil pesona kecantikan adalah alat. Hari-hari dilalui, mulai dari lomba bayi sehat hingga lomba nyanyi. Lomba kecantikan dan foto model. Keyakinan diri tak ragu lagi, rayuan maut bukan masalah. Ketenaran berlanjut, keatas panggung dunia hiburan, semakin dicintai dan dikagumi, dibawah lampu sorot dan terbalut cerita fiksi. Badan aduhai wajah yang amboi, dikenal oleh semua pencinta sinetron, idola semua pembantu dan ibu rumah tangga. Menjadi supplier utama infotainment, memberikan lapangan kerja yang begitu besar dengan bersensasi dan berskandal ria.
Balada Bayi Organisatoris
Sejak kecil mereka sudah pintar mengatur, bahkan bisa mengatur pembagian makanan kecil suguhan. Mereka tipe yang bisa sukarela menawarkan diri memotong kue bagi semuanya, sambil menyisakan potongan terbesar buat dirinya sendiri. Mengatur siapa yang jadi penjahat dan pahlawan dalam permainan di playgroup, dilanjutkan dengan ketua kelompok, ketua kelas, ketua OSIS, ketua Ormas dan calon legislatif. Idealisme berkobar-kobar, atau setidaknya terlihat berkobar. Biasakan memberi insentif bagi orang lain untuk mendukung anda! Umbar janji-janji, jeli membaca ketamakan dan obsesi orang lain, gunakan kesempatan untuk membeli suara. Perlahan meniti jenjang kepangkatan, menuju puncak-puncak organisasi massa. Keahlian bermanuver terus dimatangkan, siapa tahu nanti dibutuhkan. Untuk menikam rekan atau atasan dari belakang. Muncul sebagai penyelamat dan suara 'agung' yang bijaksana. Bijaksana bijaksini, asal untung teman menjadi lawan. Dekat siapa jauh siapa, siap berteman dan siap berkhianat bila perlu.
Balada Remaja menjelang Dewasa di Partai Politik
Setelah perjuangan yang melelahkan dilingkungannya masing-masing, bayi bayi politik yang imut-imut ini tumbuh dan mulai dewasa. Setelah dipikir-pikir, setelah perjuangan hidup yang melelahkan itu, mereka telah tiba dipuncak dunianya masing-masing.
Sang bayi dinasti politik penguasa telah menjadi Pangeran yang siap mewarisi tahta politik, bayi dinasti politik lainnya (mantan penguasa) telah siap sebagai tokoh oposisi yang dipenuhi stiker, poster, spanduk promosi keagungan masa lalu keluarganya. Kedua bayi ini sudah dianggap layak tanpa perlu fit and proper test. Darah katanya menjamin, genetika menjamin integritas dan kejujuran mereka.
Bayi tokoh agama juga telah mencapai puncak, kata-kata mereka bagaikan interlokal langsung dari Yang Kuasa. Bersama dukungan habis-habisan dari pengikut, misi dan visi mereka dianut oleh pengikutnya. Dijalankan dengan penuh ketaatan, tak boleh dipertanyakan apalagi diragukan. Ormas-ormas pendukung diri sudah disiapkan, untuk meluncurkan diri ke puncak keagungan.
Bayi tengkulak telah berkendaraan mewah dan berkantor tingkat, konglomerat-konglomerat dibidangnya masing masing. Hasil jerih payah koneksi, kolusi dan nepotisme telah melahirkan buahnya. Tak ada bisnis yang tak tersentuh, tak ada tender yang tak mungkin dimenangkan. Tinggal atur pasti beres. Belum cukup keuntungan, belum puas berdagang, masih ada yang tak tentu, memperlambat keuntungan dan memungkinkan kerugian.Tak disangka ekspansi bisnis mentok juga, membeli pejabat dan hakim ternyata ada batasnya, sungguh..ehem...mengherankan di negara ini.
Bayi selebritispun jenuh, jenuh dengan kepopuleran dan persaingan. Umur bertambah, saingan yang ganteng dan cantikpun bertambah. Setelah diversifikasi maksimal, jual wajah rupawan, tubuh pesona dan suara menghanyutkan. Sinetron, album lagu, iklan, kawin cerai dan operasi...Apalagi yang bisa dilakukan, agar kepopuleran tidak menyusut?
Bayi organisatoris telah menjadi pemimpin. Teriakan dan slogannya memukau massa, kepemimpinannya diidolakan oleh golongannya. Pujian bertubi-tubi, putra kebanggaan daerah, simbol suku tertentu, agama tertentu. Fotonya dipajang dikantor-kantor, namanya diberikan ibu- ibu penggemar pada bayi-bayi yang baru lahir. Kata sang ibu..cepat besar nak, kelak sepintar tokoh itu!
Setelah mencapai puncak dibidangnya masing-masing, muluslah langkah bayi-bayi itu menuju tempat terhormat. Tempat termulia didalam masyarakat berbangsa dan bernegara! Gedung megah di Senayan, dengan pagarnya yang baru, kuat, tinggi menjulang dan anti demo, dengan parkiran yang luas untuk mobil-mobil mewah. Setelah kekaguman masyarakat dibidangnya masing-masing diperoleh, tinggal menorehkan nama dalam sejarah.
Sang bayi dinasti politik tampil penuh percaya diri, bukankah dia sudah seumur hidup menunggu saat ini? bagaikan putra mahkota (bukan 'wakil' yang dipilih rakyat) dia melangkah tegas. Yakin-seyakin-yakinnya akan Hak yang dimilikinya untuk berkiprah. Terbayang wajah orang tua dan sanak saudara, rasa bangga melanjutkan 'tradisi' keluarga...yang dalam hiruk pikuk politik bangsa ini, seringkali jadi motivasi utama berbungkuskan nasib rakyat.
Bayi tokoh tokoh agamapun melangkah yakin, beberapa diantara mereka punya visi yang jelas. Visi mengagungkan Khalik, melalui keluhuran ajaran. Sebagian lagi dari mereka melihat bangsa yang dipertobatkan, disterilkan dari orang-orang kafir. Agenda mereka bukanlah kesatuan bangsa, tetapi kemenangan golongan dan pemusnahan semua yang tidak sejalan. Dasar mereka bukanlah dasar negara, tetapi fanatisme sempit yang dirias cantik. Apanya yang salah? bukankah Yang Kuasa memihak kita? segalanya pasti benar jika Yang Kuasa dipihak kita. Membunuhpun dianugerahkan pemuasan nafsu, jikalau Yang Kuasa dipihak kita.
Bayi tengkulak terlihat berseri, tak ada yang lebih indah daripada Senayan! Disini segala bisnis bisa dilakukan, bersama dengan orang-orang yang mengerti dirinya. Apapun alasan dan latar belakangnya, betapa senangnya berdiskusi dan berkumpul dengan orang-orang yang bermain diaturan yang sama: keutungan diatas segalanya. Segalanya pintu yang tertutup kini terbuka, cukup bercengkerama diruang-ruang yang tersedia, jabat tangan dan dua macam senyum. Senyum untuk pers dan rakyat dan senyum untuk rekan 'sekerja'.
Bayi selebritispun puas, ini order yang tak kunjung putus! Masih banyak kampanye dihari esok. Suara penuh pesona, wajah nan rupawan dan lenggak lenggok tubuh, tak pernah gagal menarik pemilih, tampil cantik setiap hari, menjadi caleg tanpa halangan. Partai siapa yang tidak bangga, punya tokoh selebritis? Simpatisan mana yang tak terpukau?
Bayi-bayi organisatorispun dipenuhi semangat berapi-api! Demo-demo dan slogan idealisme telah mengatarkannya kekursi empuk di Senayan. Selesailah sudah jerih payah dan keringat! Disinilah perjuangan yang sesungguhnya dimulai! Hanya..kok sedikit berbeda dengan waktu didepan kampus...perjuangan disini bukan soal idealisme, tapi kompromi..bukan kebenaran tapi tukar guling...bukan tidak cukup uang untuk makan..tetapi amplop mana yang harus diterima atau ditolak. Bukan berdiri bersama yang punya integritas, tapi mem-beo-kan kehendak pimpinan parpol atau dewan. Ini lain sekali, harus mengikuti tata krama dan aturan, protespun harus diagendakan, tidak setujupun tidak boleh disuarakan kalo tidak dapat giliran. Ini untuk menjaga kehormatan dan martabat, toh namanya wakil rakyat yang termulia. Semua harus melalui prosedur, semua harus musyawarah untuk mufakat.
Demikianlah saudara saudari...balada pertumbuhan politikus di negeri ini, dari asal usul yang sederhana, tidak terlalu sederhana atau malah tidak jelas sama sekali. Tibalah mereka di Senayan, sebagian kecil berjuang dengan hati nuraninya, sebagian besar tidak pernah tahu apa yang namanya nurani. Sebagian kecil suara yang menyuarakan rakyat, sebagian besar menyuarakan kepentingan diri, golongan dan siapapun yang bisa membayar...kemana arah demokrasi bangsa ini hanya mereka dan Tuhan yang tahu...seperti bajaj saja, belok kemana hanya supir bajaj dan Tuhan yang tahu...hehehe Sampai kapankah bangsa harus puas dengan politikus semacam ini? ...hanya Tuhan yang tahu...
humility lagi nih..
If I truly seek for truth, If I earnestly attempt to listen and obey, I discover two things:
1. "The depth of my pride, the unwillingness to count oneself and to be counted nothing, to submit absolutely to God, there was, that one never knew."
2. "The utter impotence there is in all our efforts and in all our prayers, too, for God's help, to destroy this hideous monster of pride."
...God help us all...
kepedihan 17 Agustus 3 tahun yang lalu
Dari 17 Agustus 2005 ke 1 Oktober 2005
(28 September 2005)
2005
Pagi hari, berdiri di tengah barisan, menunggu upacara bendera dimulai.
Dirgahayu ke 60 bangsaku, dirgahayu negeriku. Berapa kali sudah penulis berdiri dalam situasi yang sama? Mesin mesin politik Orde Baru, mencuci otak, mengarang sejarah. Membesarkan generasiku, tapi...tak semuanya kelam. Lagu lagu perjuangan terngiang didalam telinga, hasil indoktrinasi seumur hidup. Berkah yang Kuasa, mampu cinta tanah air dan bukan pembela busuknya propaganda. Sesaat penulis berdiri melintasi waktu, mencoba membandingkan dulu dan kini. Susah berkonsentrasi, ditengah hiruk pikuk gosip dan canda. Gerakan kaki mahasiswa yang gelisah, goyangan badan dan lidah tua dan muda. Sang Saka Merah Putih siap dikibarkan, berlatarbelakang gedung perkantoran modern. Keramaian kendaraan, mobil mewah yang berlalu-lalang. Sesaat hati bergejolak dan mata menoleh kebelakang. Hadir dalam imajinasi, pada upacara pertama, 60 tahun yang lalu.
1945
Penulis hanya berani berdiri, dibelakang para pejuang. Emosi memenuhi udara yang kuhirup. Emosi bapak-bapak bangsa, emosi para pejuang. Sang Saka Merah Putih berkibar, hasil jahitan tangan seorang ibu yang berjuang, bukan hasil industri dadakan setiap tujuhbelasan, yang bisa dibeli dijalan-jalan. Setiap detik, setiap tetes keringat, darah dan air mata. Terbayar lunas oleh setiap detik proklamasi. Aku merasakan, kehadiran lebih dari mereka yang berdiri, mungkinkah, setiap jiwa, mengingat mereka yang tidak bisa hadir? Mereka yang seharusnya turut menyaksikan tetapi tak kuasa. Gugur melawan maut, penderitaan dan kekejaman penjajahan. Bhinneka Tunggal Ika, Dwi tunggal bapak bangsa. Dari Sabang sampai Merauke.
2005
Tersentak sadar, Sang Saka Merah Putih bergerak perlahan. Perlahan pula hati menangis, tak kuasa berdiri ditengah larutan formalitas. Betapa bedanya, suara yang bersama membaca, dasar negara. Dimanakah rasa haru? dimanakah lautan emosi yang baru saja kurasakan menusuk kebarisan paling belakang? Yang hadir adalah ketidaksabaran, ketidakpedulian, kewajiban yang diharuskan dan kekecewaan. Penulis diselimuti rasa malu, tak sanggup menghadapi, wajah-wajah para pendiri bangsa. Tersirat pemikiran, betapa tidak layaknya kita!
1945
Terjatuh menutupi muka, tak sanggup sudah! Melihat kekecewaan dan kepahitan, diwajah bapak-bapak bangsa. Tak sanggup menjelaskan, betapa generasi penerus mereka telah mengubah darah, air mata dan keringat mereka menjadi sampah berlabel Indonesia saat ini. Tangisan mereka menusuk tulang dan sumsum, pertanyaan mereka bagaikan pisau yang menghujam. Mereka tidak bisa mengerti, mengapa kemerdekaan yang mereka bayar dengan darah, kini menjelma menjadi penjajahan oleh bangsa sendiri. Mereka tidak habis pikir, mengapa Sumpah Pemuda menjelma menjadi Satu Suku, Satu Golongan, Satu Partai. Mereka tidak mengerti mengapa saudara sebangsa dan setanah air, mewujudkan adil dan makmur hanya bagi diri sendiri dan keluarga. Mereka terhenyak ketika nama Khalik yang mengaruniakan kemerdekaan bagi bangsa ini, dijadikan alat menindas, memperkosa dan menganiaya saudara setanah air.
2005
Pancasila mulai dibacakan, lagu Padamu Negeri dikumandangkan. Mengheningkan cipta dilaksanakan...Seakan terdengar, jeritan kemarahan dari para pahlawan. "Kami tidak butuh didoakan secara formalitas! kami tahu apa yang kami perbuat, kami menghadap Khalik setidaknya dengan sadar, apa yang kami perjuangkan dalam hidup!" Mendengung perkataan ini: "Daripada berpura-pura mendoakan kami, apa yang diperbuat untuk meneruskan perjuangan kami?" Kami tidak berjuang untuk memperkaya diri, kami tidak berjuang untuk mencaplok kekuasaan, kami menderita demi masa depan anak cucu kami, bukan menciptakan penindasan dan penderitaan bagi generasi anak cucu. Kalian munafik! beraninya menyanyikan Padamu Negeri, ketika keangkaramurkaan menjadi makananmu sehari-hari. Ketika retorika menutupi kekejian dan kebusukan, mabuk kekenyangan dari uang milik rakyat dan bangsa. Ah tak sanggup lagi diri ini! mendengarkan kekecewaan kemarahan ribuan gugur bunga, bunga bunga bangsa. Bunga bunga yang menjadi pupuk tanah kemerdekaan, tanah kemakmuran.
Tiga hari lagi, Hari Kesaktian Pancasila (menurut sejarah yang direkayasa). Penulis ketakutan, membayangkan apa yang akan dikatakan oleh mereka yang sudah mendahului kita kali ini (jikalau mereka melihat masa ini). Jikalau hari proklamasi, perbandingan menelanjangi kegagalan dan kehancuran. Lengkap dengan listrik padam se-Jawa Bali, bagaikan ironi Dirgahayu. Apa reaksi mereka? terhadap manipulasi kekejian sejarah?
1965
Kengerian dimana-mana, tetangga dan teman menjadi lawan, tuduhan tak beralasan berakhir dengan kematian. Kekejian saudara sebangsa, ratusan ribu berguguran, segelintir yang diakui. Stigmatisasi yang tak dimengerti, membawa maut dan 40 tahun penderitaan. Kenapa begitu banyak wajah? ratusan ribu wajah? yang tidak pernah disebut sejarah? kenapa begitu banyak darah, mengalir bagaikan sungai. Kesempatan dalam kesempitan, memberi label demi balas dendam dengki dan iri. Kesempatan dalam kesempitan, dari mahasiswa menjadi menteri. Dari rakyat tertindas menjadi penindas.
Ketakutan melanda diri, akankah para pelaku sejarah membuka tabir misteri? Maukah mulut-mulut yang diam (atau didiamkan) sampai mati mengkonfirmasikan kepalsuan masa kini? Aneh, penulis mengingat kedepan, masa propaganda, keharusan menonton film setiap tanggal 30 september. Betapa naifnya, nasionalisme yang dibangun diatas sejarah terseleksi. Akankah tokoh tokoh pahlawan revolusi berbicara? Penulis tidak yakin apa yang bisa dipercaya, dari cerita yang penuh kosmetika politik. Penulis tidak takut, akan komentar tokoh tokoh buatan sejarah. Penulis justru miris, membayangkan kata-kata sederhana dari ratusan ribu mulut yang tak pernah tercatat dalam sejarah. yang dilenyapkan oleh penulis sejarah. Akankah mereka kembali berteriak: Kenapa? apa salah kami? Penulis terheran heran dan bergidik, sebagian dari mereka tidak sesuai imajinasi, berpakaian dan berparas modern. Dari manakah mereka? Mulut mulut itu serentak menjawab: Mereka adalah saudara sebangsa kami, senasib sepenanggungan, dari segala jaman tahun-tahun kemerdekaan. Dirgahayu Indonesiaku, darah yang tercurah, tubuh-tubuh yang remuk, karya rezim dan penguasa. Korban perkosaan dan penganiayaan, korban senjata penegak hukum dan bukan penjajah, korban ketidakpedulian dan penggusuran.
2005
Sejarah berlanjut, pemalsuan berlanjut. Perhatian hai korban- korban kekejian saudara sebangsa! Segera menyusul dan menemani anda, mulut-mulut yang akan tersingkir, tumbal ketidakadilan dan keangkaramurkaan penguasa. Mempertanyakan kenapa? kenapa saya harus mati?kenapa saya harus tersingkir? kenapa saya diperkosa dan dianiaya? Dirgahayu negeriku.
Akankah hari kesaktian Pancasila seperti biasa, menjadi perpanjangan kepalsuan sejarah? akankah retorika yang didasarkan oleh sejarah palsu dipoles baru, menjadi justifikasi kebijakan yang tidak bijak? Penulis dengan gentar menunggu. Menunggu kesaktian Pancasila dibuktikan, bukan oleh propaganda politik, bukan oleh pemalsuan sejarah, tapi melalui kembalinya tokoh-tokoh yang melahirkan Pancasila dari lubuk hati. Pancasila yang bukan alat politik, tapi cara hidup. Mampukah hari kesaktian Pancasila, mengalahkan dusta keji yang membidaninya? Terlalu lama sudah, hari Kesaktian Pancasila justru menunjukkan ketidaksaktian Pancasila. Hari Kemenangan Pancasila versi penguasa identik dengan kemenangan manipulasi sejarah. Merek politik maling berteriak maling. Fondasi absolutisme kekuasaan. Dramatisasi bahaya laten, bagaikan menyodorkan gambar setan untuk menutupi wajah setan yang sesungguhnya. Mempertontonkan ketidaksaktian Pancasila dari sikap hidup penguasa (yang katanya) pembela Pancasila. Yang fasih beretorika Pancasilais, sambil menginjak-injak cita-cita luhur para penulisnya. Haruskah penulis, menyetujui suara banyak orang yang saat ini berkata: Apanya yang sakti? bahwa hari kesaktian Pancasila yang sejati, belum pernah terjadi? Jikalau demikian, kapankah penulis dapat merayakan keagungan cita-cita luhur pendiri bangsa? Mungkin satu saat, ketika mulut-mulut yang tersingkir, teraniaya, terbunuh boleh tersenyum kembali. Suatu saat yang sepertinya semakin jauh dari jangkauan kenyataan. Bukan 17 Agustus 2005, dan bukan 1 Oktober 2005.
Selasa, 02 September 2008
moo-moo's word of the day: humility
rendah hati itu apa sih?apa bedanya dengan rendah diri?kenapa rendah hati penting?gimana sih batasnya antara bangga dan sombong?..moo-moo harus ngaku nih punya bakat sombong..bagaikan sapi yang pede akan belang putih hitamnya, tanduk dan kuku yang mengkilat dan hidung yang basah segar..hehehe..
ok..jangan kelewatan ngomongin sapi..moo-moo sempet heran kok begitu ekstrem ya tuntutan Firman Tuhan soal rendah hati?khan kalo berhasil bangga itu oke2 saja?hmm..butuh kejujuran yang sangat dalam dengan diri sendiri sih (masih latihan!)..sebenernya ketika sedang bangga, berapa persen sih porsi dalam hati dan pikiran yang inget bahwa tanpa Tuhan kita gak bisa apa2?berapa detik yang kita sisihkan, berapa kata yang kita pakai untuk ngomong: terima kasih Tuhan untuk berkat dan kemampuan yang Kau berikan?kalo jujur..lebih sedikit dari yang kita berikan buat diri kita sendiri..Firman Tuhan mengatakan diluar Dia kita tidak bisa berbuat apapun..Tidak ada satu hal pun sekecil apapun didunia ini yang bisa eksis tanpa Tuhan..gak percaya?sepinter apapun, sekuat apapun, tanpa oksigen yang Tuhan sediakan untuk 1 menit saja..apa gunanya jadi orang hebat?!semua yang bisa dinikmati dibawah kolong langit itu sia-sia kata raja Salomo (yang kalo dikurs berlipat lebih sukses dari pemimpin dunia saat ini, berlipat lebih kaya dari Bill Gates)..kunci supaya tidak sia2: Ingatlah akan penciptamu.
masalahnya tidak pernah ada orang yang bisa rendah hati tanpa diusahakan..kayak bayi baru lahir gak langsung ngoceh dengan ejaan bahasa indonesia yang baik dan benar..lebih ngeri lagi..kita (manusia nih..bukan sapi) punya kecenderungan sombong..sampai2 Tuhan selalu nomor kesekian. Self centered in any possible way..even our deeds (perbuatan baik ) to others is to make US get that ticket to heaven..moo-moo sempet kaget..iya..gimana mungkin memuliakan Tuhan?mentaati FirmanNya?kalo dibalik semua praktek keagamaan itu lagi2 untuk diri?emangnya Tuhan (maaf) se 'naif' itu?begitu gampang kita sogok dan tipu?seperti Ujian SIM di Indonesia tercinta?yang penting ngisinya bener, gak peduli jawabannya dapat darimana dan lulus bakal digunakan seenaknya?moo-moo tersentak membaca definisi seorang Andrew Murray, yang seumur hidupnya bergumul untuk tidak pernah mendahulukan diri, tetapi Tuhan dan sesama. Kata Andrew..tidak mungkin ada unsur surgawi itu bisa hadir dalam diri kita, ketika masih ada sedikitpun bagian dari diri kita yang ingin kita pertahankan..kenapa?karena standar keilahian Tuhan dan standar sorgawi itu tidak boleh disaingi, dibayang-bayangi, dimanipulasi oleh sepotong diri yang masih ingin tampil itu...
"humility is not skeptiscism, but realization that our faculties are limited and fallible, that all cultures have their blind spots, that we should remain open-even as we carry our convictions- to correction by fresh evidence, new argument, and more experience" Engaging God's World (Cornelius Plantinga Jr.)
"Humility is not a thing that will come of itself, but it must be made of the object of special desire, and prayer and faith and practice." (Andrew Murray)
"The truth is this: unless pride dies in you, nothing in Heaven can live in you." (Andrew Murray)
"Deeper humility can only be found in the HABITUAL..never even for a moment to be forgotten of my position before GOD: A Wretched sinner saved by Grace alone."
"The greatest test of whether or not the holiness we profess to seek or to attain, truth and life, will be manifested in the increasing humility it produces."
"True humility: The soul that has done this can say, So have I lost myself in finding Thee, and no longer compares itself with others."
"Humility is the blossom of which death to self is the perfect fruit."
"How can I die to self?The death of self is not your works, it is God's work."
self moo-moo
Dear Heavenly Father,
Here I am once again. Shaken with fear for all the things that I have become.
Crying out to You, crying for my self. For my responsibilities, for all blessed privilege that should have bring me closer, not further from You.
Father, gives me strength! Let me feel Your blessings not for the fulfillment of my desires, but for the privilege and responsibility that is.
Let me examine my pride, my dreams and personal beliefs. Never should it be, standing against what You want for me. For I am so afraid, that I am lost in the never ending tasks of life. Losing control, govern by selfishness, pride. Driven, with words that should never be said.
For I am lost in my tasks, losing the time to care, losing the time to listen. Living, in isolation of mindless drive of worldly solutions. Soften my heart O lord, never let it dries from lack of use. Let me seek for the chance to understand others. When my days are long, never let the times fly. Hold me, so I am saved from the things that I must do. May Your Will still be the foremost in my mind, and my decisions are taken at Your presence. Forgive me Father, for putting You aside.
My Lord, My God, let all abundant blessings be seen through Your Eyes. Not by my standards, nor by my expectations. May my complains be silenced as I wait upon Your time. My anger and bitterness cease polluting my words. May all impatience and bitterness O God, be laid down at Your Feet.
Lord, help me understand, let not a single day passes where complains are justified, anger and dissolution defines who I am. Destroy my defenses O Lord, my fortress of justification. Let it crumbled before Your Loving Wisdom.
Let my life stays at Your Path. My mind stays with Your Will, so my consciousness be govern by Your Word, and my weak self be Your instrument, nothing more and nothing less. Let my prayers rejuvenated O Lord. Make me live my life as You want.
the joy of being with students
Seorang mahasiswa/i bukan sekedar seseorang yang menghadiri kelas. kalau seorang yang rindu menjadi pendidik bener-bener merenungkannya, mahasiswa bukan lagi seorang yang dipanggil dengan nama tertentu, yang sedang mengikuti kelas moo-moo gara-gara mata kuliah prasyarat...pernahkah kita sebagai pendidik berpikir?betapa mengerikannya apa yang kita sedang kerjakan?kita bukan sedang membentuk suatu objek, membuat mesin atau karya..kita sedang dipertemukan dengan seorang pribadi..seorang yang memiliki kekekalan didalam diri, roh, jiwa dan pemikiran. yang gak ada duanya didalam dunia ini dan dalam sepanjang sejarah eksistensi manusia dimuka bumi.tidak pernah ada yang persis sama! kita juga adalah pribadi, setiap kita dengan keunikan, kelemahan, kelebihan...dalam kehendak Allah pencipta langit dan bumi, didalam ruang waktu dan tempat, kita dipertemukan. bukan karena kebetulan, tetapi dalam rencana dan anugerah Tuhan.satu saja dari segala faktor dalam hidup kita yang tidak cocok..tidak pernah ada kesempatan untuk bertemu.
Jika sebuah pertemuan antar insan manusia sudah begitu istimewanya, bayangkan betapa istimewanya suatu kesempatan, dimana seorang manusia, datang dan mendengarkan apa yang kita sampaikan..menyediakan waktu, tenaga dan kesempatan untuk bersama kita, mengharapkan bahwa dari pertemuan yang disebut pendidikan ini, dia boleh menjadi seorang manusia yang lebih baik? betapa mengerikannya diri kita, jika kita dengan enteng melihat setiap kesempatan ini? dihadapan Tuhan dan sesama, dengan segala kelemahan, kesalahan dan kejelekan yang selalu ada dalam diri kita..kita berharap bahwa mahasiswa ini tetap bisa menerima manfaatnya...sungguh suatu misteri..suatu profesi yang hasil akhirnya kualitas seorang manusia.
terlalu idealis?gombal?gak realistis?mungkin saja..tetapi pernahkah anda merasa sukacita yang begitu meluap, bukan karena kenaikan gaji, bukan karena kesuksesan anda, tetapi karena seorang mahasiswa yang berhasil?bukan karena kepandaian yang anda berikan, bukan karena gelar juara olimpiade Fisika..
Bukan mahasiswa terbaik, bukan mahasiswa teladan..hanya seorang mahasiswa yang biasa-biasa saja..tidak pintar, tidak sukses menurut ukuran dunia ini.. somehow..inspite of all our imperfection as teachers or educators..this person learned something from us..becomes a better person. Seorang mahasiswa yang belajar dari nasehat dan didikan anda, mengambil hikmahnya..sehingga dalam kehidupannya kemudian dia menjadi seseorang yang menjadi berkat semua orang yang ditemuinya?
moo-moo pernah ditertawakan oleh temen-temen, ketika pengin jadi seorang guru..apalagi guru direpublik nan lucu ini..apa hasil karyanya?mana karya senimu?mana gelar juara?mana statistik jumlah produk yang kamu jual?..moo-moo mesem-mesem saja dan berpikir..silahkan menjual 100 unit mobil dalam sebulan..sepuluh tahun lagi mobil itu sudah jadi rongsokan..seorang mahasiswa yang boleh berbagi hidup?boleh bernilai dan menjadi berkat bagi banyak orang berpuluh tahun kedepan..ketika dia menjadi pengusaha..dia mungkin bertanggungjawab akan kesejahteraan berpuluh keluarga..jika dia menjadi seorang yang lebih baik karena teladan dan didikanmu, ada nilai yang terus bergulir..pilih mana?..moo-moo senyum-senyum lagi..sebuah pribadi lebih bernilai dari harta apapun, kesempatan berbagi hidup dengan seorang pribadi..anugerah dan penghargaan terbesar..tanggungjawab yang begitu besar yang Tuhan percayakan..kepada seorang manusia yang penuh cacat cela..
jelas kan darimana sukacita itu?
ini aneh..mosok sapi ngomongin serigala??
Homo Homini Lupus - Lupus Indonensis?
(10 September 2005)
(Homo Homini Lupus, manusia merupakan serigala bagi sesamanya. Sebuah Ungkapan Romawi yang populer oleh Plautus, dalam karyanya Asinaria.Thomas Hobbes menggunakan perkataan ini dalam karyanya "De cive, Epistola dedicatoria" )
Beberapa tokoh masyarakat Indonesia memperingatkan bangsa ini dengan mengutip apa yang dinyatakan Hobbes. "Ketika kerakusan, cinta diri menjadi pola kehidupan, dan penghormatan kepada kebenaran lebih didasarkan pada uang dan kekuasaan akan muncul situasi di mana orang lain bukan lagi dianggap saudara, melainkan musuh. Keadaan ini akan melahirkan apa yang disebut homo homini lupus."
Penulis dengan penuh rasa humor menyadari bahwa serigala bukanlah mahluk yang hidup di bumi Nusantara. Mungkinkah ini alasan mengapa para pemimpin bangsa yang terpelajar tidak mampu melihat persamaan antara mereka dengan serigala? Jikalau demikian, penulis merasa perlu untuk bercerita sedikit mengenai serigala.
Para alim ulama dan rohaniwan melihat Homo Homini Lupus sebagai arah kemana masyarakat Indonesia tercinta sedang menuju. Tergelitik hati untuk menyelidiki, apakah benar proses ini masih sedang terjadi..ataukah sudah terjadi?
Penulis merasa perlu, untuk membela serigala-serigala yang tidak berdosa. Alangkah sial nasib mereka! Hanya karena nenek moyang mereka dikutip oleh tokoh-tokoh terkenal, mereka sekarang harus menanggung aib dipersamakan dengan manusia Indonesia.
1. Jikalau mahluk bernama serigala sungguh hidup di bumi Nusantara, maka sebut saja Lupus Indonensis. Serigala konon terkenal kebuasannya, akan tetapi juga terkenal kekerabatannya. Serigala adalah mahluk sosial yang hidup dalam alam pembagian tanggung jawab yang kuat, yang setia pada pasangannya sampai mati. Ini sungguh menarik! Jikalau kebuasan masyarakat Indonesia disamakan dengan serigala, haruskah kita yang terbius oleh indoktrinisasi orde baru menerimanya dengan senang hati? Bukankah bangsa kita ramah, gotong royong dan setia? mirip dong dengan serigala? Penulis tertegun sejenak, apakah benar? apakah sungguh manusia Indonesia masih (atau ternyata belum pernah) bertingkah laku seperti slogan-slogan pencucian otak yang berkumandang selama ini? Benar sekali, bangsa kita saat ini ramah dan pandai, ramah jika butuh dan beringas jika tidak. Pandai dan ahli dalam pembodohan diri. Bergotong royong mengeroyok dan merusak, membabi buta dan setia pada kepentingan dirinya sendiri. Serigala- serigala Indonesia jauh lebih maju dari nenek moyangnya. Jikalau dulu buas demi kelangsungan hidup, kini buas demi kepuasan nafsu angkara murka. Kekerabatan? benar sekali! manusia Indonesia sangat menjaga hubungan kekerabatan! kerabat dalam kolusi, kerabat dalam nepotisme, kerabat dalam kompensasi BBM dan Bantuan Operasional Sekolah. Setia dengan pasangan? tentu saja setia memuaskan nafsu konsumerisme pasangan dan anak anaknya. Tanggungjawab? sangat konsisten dalam melemparkan tanggungjawab, mengkambinghitamkan, mengejar hak dan buta tuli bisu dalam tanggungjawab. Alea iacta est - The die has been cast (nasi sudah menjadi bubur)
2. Abyssus abyssum invocat - Hell calls hell; one mistep leads to another
Korupsi disegala bidang, seribu rupiah sampai sekian trilyun rupiah, oleh ketua RT sampai pilar-pilar hukum tertinggi, kreativitas mencari lahan penggelapan. Stigmatisasi kelompok tersingkir, pembunuhan-pembunuhan keji terencana, haus akan sensasionalitas amoralitas, menuntut tanpa bekerja, membakar menjarah ekspresi hak azasi diri. Dagang hukum dagang penegak hukum. Ketidakpedulian berbungkuskan hikmat pengetahuan, wajah wajah tersenyum bahagia sambil memeras (bahkan memeras pun harus disesuaikan kenaikan BBM).Penyalahgunaan wewenang tanpa kecuali, kepalsuan yang dipertontonkan, kebenaran yang disingkirkan sejak bangun sampai tidur. Penjilat-penjilat diagungkan, pemegang integritas ditertawakan. Asinus asinum fricat - The ass rubs the ass. (sesama penjilat dengan bangga saling memuji 'kekosongan otak' masing-masing) Kartu kompensasi BBM dan Bantuan Operasional Sekolah, bintang terbaru dalam seribu satu cara korupsi ala Indonesia. Miskin identik dengan teman, saudara dan keponakan. Miskin identik dengan mereka yang 'berterimakasih' untuk dilabel miskin. Homo Homini Lupus. Sudah atau sedang menuju?atau sudah melampaui? Belua multorum es capitum - The people are a many-headed beast (bagaikan binatang berkepala banyak)
3. Jikalau penulis melihat, mendengar dan membaca. Penulis heran mengapa serigala dibawa-bawa. Sanggupkah serigala menjadi analogi kebiadaban, kekejian, kemaksiatan bangsa ini? Haruskah para ahli bangsa ini merevisi karya besar Thomas Hobbes ini? Jeritan hati mengatakan ya! Mahluk yang hidup didalam keseimbangan alam Sang Pencipta harus menanggung stigma dipersamakan dengan manusia Indonesia saat ini. Bagaimana mungkin kebuasan mahluk yang dikendalikan oleh naluri dan hukum alam boleh disamarendahkan dengan kebuasan manusia yang bernurani, berakal budi dan berketuhanan? Ketika Hobbes menuliskan karyanya, gejolak sosial politik dan demokratisasi adalah ide baru yang utopis, sedikit contoh keberhasilan yang konkrit. Kerusakan sosial dan anarki merupakan ekses pergeseran pengertian manusia akan hak azasi dan kewajiban. Jikalau kebuasan manusia saat itu boleh dianalogikan dengan serigala, dengan apakah kita harus menganalogikan kebiadaban bangsa Indonesia saat ini? yang bukan hanya hidup ditengah kejayaan demokratisasi, tetapi bereksperimen dan berkanjang dalam ide-ide demokratisasi, hak azasi, religiusitas dan keluhuran martabat manusia selama 60 tahun? Cuiusvis hominis est errare; nullius nisi insipientis in errore perseverare - Any man can make a mistake; only a fool keeps making the same one (60 tahun mengulang kesalahan manusia Indonesia yang sama)
Jikalau penulis boleh mengusulkan, janganlah binatang dipersalahkan! Sebuas apapun binatang tak sebuas manusia Indonesia! Lupus Indonensis, bagaikan serigala psikopat, kelaparan yang terkena rabies, tak terkendali dan harus dimusnahkan. Akankah sampai waktunya? ketika Khalik berhenti memperingatkan? ketika hukuman penuntasan datang? kepada spesies bernama manusia Indonesia? Penulis tenggelam dalam keramaian keputusasaan, menangis dalam lautan apatisme sekeliling, melihat kejahatan adalah kebiasaan, kekejian hanyalah angin lalu. Semua mengangkat bahu dan berlalu, bukan urusanku, bukan misiku. Dilema hati nurani, akan memohonkan pengampunan atau hukuman? suara hati sampai lirih berkata, kemusnahan total jalan keluar satu-satunya. Air mata berbisik, harapan masih ada. Mata yang berair mata bertanya, kenapa harapan dan kenyataan tak pernah bisa dilihat bersama?
