moo-moo udah capek nonton layar kaca..semua sinetron..err..yang politik..yang sinetron..sama kaco dan nggak mutunya..hii..mudah2an gak kayak renungan dibawah ini ya...
Homo Homini Lupus - Lupus Indonensis?
(10 September 2005)
(Homo Homini Lupus, manusia merupakan serigala bagi sesamanya. Sebuah Ungkapan Romawi yang populer oleh Plautus, dalam karyanya Asinaria.Thomas Hobbes menggunakan perkataan ini dalam karyanya "De cive, Epistola dedicatoria" )
Beberapa tokoh masyarakat Indonesia memperingatkan bangsa ini dengan mengutip apa yang dinyatakan Hobbes. "Ketika kerakusan, cinta diri menjadi pola kehidupan, dan penghormatan kepada kebenaran lebih didasarkan pada uang dan kekuasaan akan muncul situasi di mana orang lain bukan lagi dianggap saudara, melainkan musuh. Keadaan ini akan melahirkan apa yang disebut homo homini lupus."
Penulis dengan penuh rasa humor menyadari bahwa serigala bukanlah mahluk yang hidup di bumi Nusantara. Mungkinkah ini alasan mengapa para pemimpin bangsa yang terpelajar tidak mampu melihat persamaan antara mereka dengan serigala? Jikalau demikian, penulis merasa perlu untuk bercerita sedikit mengenai serigala.
Para alim ulama dan rohaniwan melihat Homo Homini Lupus sebagai arah kemana masyarakat Indonesia tercinta sedang menuju. Tergelitik hati untuk menyelidiki, apakah benar proses ini masih sedang terjadi..ataukah sudah terjadi?
Penulis merasa perlu, untuk membela serigala-serigala yang tidak berdosa. Alangkah sial nasib mereka! Hanya karena nenek moyang mereka dikutip oleh tokoh-tokoh terkenal, mereka sekarang harus menanggung aib dipersamakan dengan manusia Indonesia.
1. Jikalau mahluk bernama serigala sungguh hidup di bumi Nusantara, maka sebut saja Lupus Indonensis. Serigala konon terkenal kebuasannya, akan tetapi juga terkenal kekerabatannya. Serigala adalah mahluk sosial yang hidup dalam alam pembagian tanggung jawab yang kuat, yang setia pada pasangannya sampai mati. Ini sungguh menarik! Jikalau kebuasan masyarakat Indonesia disamakan dengan serigala, haruskah kita yang terbius oleh indoktrinisasi orde baru menerimanya dengan senang hati? Bukankah bangsa kita ramah, gotong royong dan setia? mirip dong dengan serigala? Penulis tertegun sejenak, apakah benar? apakah sungguh manusia Indonesia masih (atau ternyata belum pernah) bertingkah laku seperti slogan-slogan pencucian otak yang berkumandang selama ini? Benar sekali, bangsa kita saat ini ramah dan pandai, ramah jika butuh dan beringas jika tidak. Pandai dan ahli dalam pembodohan diri. Bergotong royong mengeroyok dan merusak, membabi buta dan setia pada kepentingan dirinya sendiri. Serigala- serigala Indonesia jauh lebih maju dari nenek moyangnya. Jikalau dulu buas demi kelangsungan hidup, kini buas demi kepuasan nafsu angkara murka. Kekerabatan? benar sekali! manusia Indonesia sangat menjaga hubungan kekerabatan! kerabat dalam kolusi, kerabat dalam nepotisme, kerabat dalam kompensasi BBM dan Bantuan Operasional Sekolah. Setia dengan pasangan? tentu saja setia memuaskan nafsu konsumerisme pasangan dan anak anaknya. Tanggungjawab? sangat konsisten dalam melemparkan tanggungjawab, mengkambinghitamkan, mengejar hak dan buta tuli bisu dalam tanggungjawab. Alea iacta est - The die has been cast (nasi sudah menjadi bubur)
2. Abyssus abyssum invocat - Hell calls hell; one mistep leads to another
Korupsi disegala bidang, seribu rupiah sampai sekian trilyun rupiah, oleh ketua RT sampai pilar-pilar hukum tertinggi, kreativitas mencari lahan penggelapan. Stigmatisasi kelompok tersingkir, pembunuhan-pembunuhan keji terencana, haus akan sensasionalitas amoralitas, menuntut tanpa bekerja, membakar menjarah ekspresi hak azasi diri. Dagang hukum dagang penegak hukum. Ketidakpedulian berbungkuskan hikmat pengetahuan, wajah wajah tersenyum bahagia sambil memeras (bahkan memeras pun harus disesuaikan kenaikan BBM).Penyalahgunaan wewenang tanpa kecuali, kepalsuan yang dipertontonkan, kebenaran yang disingkirkan sejak bangun sampai tidur. Penjilat-penjilat diagungkan, pemegang integritas ditertawakan. Asinus asinum fricat - The ass rubs the ass. (sesama penjilat dengan bangga saling memuji 'kekosongan otak' masing-masing) Kartu kompensasi BBM dan Bantuan Operasional Sekolah, bintang terbaru dalam seribu satu cara korupsi ala Indonesia. Miskin identik dengan teman, saudara dan keponakan. Miskin identik dengan mereka yang 'berterimakasih' untuk dilabel miskin. Homo Homini Lupus. Sudah atau sedang menuju?atau sudah melampaui? Belua multorum es capitum - The people are a many-headed beast (bagaikan binatang berkepala banyak)
3. Jikalau penulis melihat, mendengar dan membaca. Penulis heran mengapa serigala dibawa-bawa. Sanggupkah serigala menjadi analogi kebiadaban, kekejian, kemaksiatan bangsa ini? Haruskah para ahli bangsa ini merevisi karya besar Thomas Hobbes ini? Jeritan hati mengatakan ya! Mahluk yang hidup didalam keseimbangan alam Sang Pencipta harus menanggung stigma dipersamakan dengan manusia Indonesia saat ini. Bagaimana mungkin kebuasan mahluk yang dikendalikan oleh naluri dan hukum alam boleh disamarendahkan dengan kebuasan manusia yang bernurani, berakal budi dan berketuhanan? Ketika Hobbes menuliskan karyanya, gejolak sosial politik dan demokratisasi adalah ide baru yang utopis, sedikit contoh keberhasilan yang konkrit. Kerusakan sosial dan anarki merupakan ekses pergeseran pengertian manusia akan hak azasi dan kewajiban. Jikalau kebuasan manusia saat itu boleh dianalogikan dengan serigala, dengan apakah kita harus menganalogikan kebiadaban bangsa Indonesia saat ini? yang bukan hanya hidup ditengah kejayaan demokratisasi, tetapi bereksperimen dan berkanjang dalam ide-ide demokratisasi, hak azasi, religiusitas dan keluhuran martabat manusia selama 60 tahun? Cuiusvis hominis est errare; nullius nisi insipientis in errore perseverare - Any man can make a mistake; only a fool keeps making the same one (60 tahun mengulang kesalahan manusia Indonesia yang sama)
Jikalau penulis boleh mengusulkan, janganlah binatang dipersalahkan! Sebuas apapun binatang tak sebuas manusia Indonesia! Lupus Indonensis, bagaikan serigala psikopat, kelaparan yang terkena rabies, tak terkendali dan harus dimusnahkan. Akankah sampai waktunya? ketika Khalik berhenti memperingatkan? ketika hukuman penuntasan datang? kepada spesies bernama manusia Indonesia? Penulis tenggelam dalam keramaian keputusasaan, menangis dalam lautan apatisme sekeliling, melihat kejahatan adalah kebiasaan, kekejian hanyalah angin lalu. Semua mengangkat bahu dan berlalu, bukan urusanku, bukan misiku. Dilema hati nurani, akan memohonkan pengampunan atau hukuman? suara hati sampai lirih berkata, kemusnahan total jalan keluar satu-satunya. Air mata berbisik, harapan masih ada. Mata yang berair mata bertanya, kenapa harapan dan kenyataan tak pernah bisa dilihat bersama?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar