Kampanye pemilu dimulai...kalo moo-moo gak begitu bingung lihat sepak terjang parpol dan anggota DPR ..mungkin aja pengen ikut berpolitik..sayangnya..saking rumit, ngawur dan semakin tidak bisa diteladaninya parpol kita moo-moo semakin apatis...aman jadi sapi aja deh..lha percuma yang ngawur tetep dipilih aja..moo-moo punya kisah lama tentang asal usul politikus..pantesan kacau ya?
Asal Mula Politikus Indonesia: the origin of species (9 Februari 2006)
Bangsa ini telah 65 tahun berpolitik sebagaimana yang kita nikmati setiap hari, melahirkan politikus politikus ulung dari jaman ke jaman. Ada sebagian orang berkata, politik itu jorok dan tak kenal kejujuran, ada juga yang sampai tega berpendapat, sebagaimana kertas tisu toilet itu perlu dipakai dan langsung dibuang, demikianlah politikus. Perlu untuk membersihkan hal-hal yang jorok, sendiri tercemari dan segera harus dibuang ke lubang toilet. Aduuh, masak sih selalu harus seperti itu? Sebagai bangsa yang 'kadang' mendistorsikan atau melupakan sejarah, kita toh tetap sedikit banyak ingat. Kalo tidak salah...dulu banyak juga politikus ulung yang tidak berakhir mengenaskan atau memalukan seperti sekarang. Konon kisahnya, politikus ulung dan raja-raja besar Nusantara, benar-benar 'lengser keprabon' (bukan terpaksa lho) setelah mencapai jaman keemasannya. Wibawanya tetap!...suaranya...bagaikan petuah bertatahkan intan permata. Sampai wafatnya, mereka dikenang dan ditangisi rakyat yang pernah diayomi. Jasanya dan dedikasinya dikenang dalam buku-buku pelajaran sejarah (setidaknya kalau tidak dihapus oleh penggantinya yang sirik). Nah..yang heran, sumber daya manusia politik bangsa ini mengalami devolusi dari tahun ke tahun. Seiring dengan bertambahnya populasi bangsa, kelangkaan-kepunahan integritas, kejujuran, teladan semakin kronis. Penulis terheran-heran, betapa konsisten bobroknya politikus masa kini. Selain selingan segelintir orang idealis kepepet (yang biasanya mati muda karena stres, penyakit misterius dan racun arsenik), bau busuk dunia politik bangsa ini sudah bagaikan tempat penampungan akhir. Setelah berpuasa menulis dalam rangka meng-amin-i setitik optimisme ditahun yang baru, penulis terserang gatal-gatal kembali akibat pemberitaan media. Bagaikan psikologi perkembangan membagi tahap perkembangan manusia kedalam tahapan-tahapan umur yang jelas, marilah kita menganalisa bagaimana sebagian politikus-politikus kita dibesarkan.
Dimanakah sebagian besar bayi politikus terkini bangsa ini lahir? Apa bedanya dengan politikus-negarawan jaman dahulu kala? Didalam konteks lingkungan keluarga semacam apa Sang Bayi Politikus lahir? Gaya hidup semacam apa dan status sosial semacam apa? Yuk..kita telusuri..
Balada Bayi Dinasti Politik
Yang pertama adalah Bayi dinasti politik, bayi-bayi ini dilahirkan ditengah keluarga yang secara turun temurun menjadi pemain dalam panggung politik bangsa, sejak lahir, ASI penuh vitamin politik sudah dicerna, dibesarkan dengan mengenal kehidupan terkenal keluarganya. Bayi Dinasti Politikpun ada dua macam, Dinasti yang sedang berkuasa dan yang pernah (alias sudah digusur) berkuasa. Yang satu camilannya adalah kekuasaan dan kebebasan berbuat apa saja, sedang yang satu lagi penghinaan, pengucilan (tapi masih punya duit sisa korupsi), kegetiran dan motivasi untuk membalas. Trik-trik bermusyawarah untuk mufakat sudah mendarah daging, disertai kemampuan alamiah bernegosiasi dibelakang layar. Masa balita indah diteruskan dengan masa remaja yang penuh percaya diri. Belajar arti sebuah nama keluarga, tak pernah salah tak pernah perlu bertanggungjawab. Adukan segalanya kepada ortu maka celakalah siapapun yang berani mengatakan engkau salah. Intimidasi, merek merek mewah dan pesta mengiringi. Sekolah apa gunanya? Kekuasaan dan surat sakti, kebal hukum hasilnya. Belajar menyuarakan pendapat, belajar berdalih didepan publik, semua itu hanya berkah yang diatas, sudah sewajarnya jika kita memperoleh segalanya. Latihan senyum politik, yang menyejukkan hati rakyat, latihan berkata arif, lain dihati lain dimulut.
Balada Bayi Tokoh Agama
Bayi yang secara otomatis dalam bangsa yang (katanya) religius ini, terjamin masa depan politiknya. Sebagai bangsa yang berketuhanan, tak ada yang lebih ampuh daripada status keagamaan untuk terjun kedalam dunia politik. Pendidikan, kesantunan dan visi yang jelas bagi masa depan bangsa disusulkan kalau perlu saja. Nama besar tokoh agama, gelar religius dan dukungan ormas keagamaan bagaikan ilmu sakti anti kritik. Bagaimana tidak, mengkritik tokoh agama diidentikkan dengan mengkritik ajaran agamanya. Keangkeran dan rasa hormat, belajar bagaimana mendua hati. Jikalau ingin sesuatu, katakan saja bahwa itu kehendak Yang Kuasa! Toh selalu menjadi penyambung lidah Yang Kuasa. Biasakan berbicara dengan ayat-ayat suci, lancar berkata-kata luhur, niscaya kuasa datang dengan sendirinya. Tak usah belajar ilmu apapun, ilmu menafsir dan ilmu memutarbalikkan ajaran saja sudahlah cukup. Ilmu apapun, rasio apapun, logika apapun tidak laku jika berhadapan dengan apa yang dikatakan 'sabda' mahakuasa.
Balada Bayi Tengkulak
Mereka yang lahir dalam keluarga pedagang atau tengkulak, yang sejak kecil menikmati susu kaleng hasil kongsi orangtuanya dengan pejabat dan aparat. Kata pertamanya berhubungan dengan uang, dan hidupnya ditujukan untuk uang. Halal haram bukan masalah, keyakinan akheratpun bisa disesuaikan, asal untung didunia. Masa remaja semakin mengkonfirmasi, uang menyelesaikan segalanya, sogok menyogok itu biasa, toh wajar saja didalam bangsa ini. Manipulasi dan penimbunan tak usah susah, toh yang namanya dagang hukumnya selalu harus untung.
Balada Bayi Selebritis
Mereka yang dilahirkan nan rupawan. Ganteng dan cantik dengan orangtua yang penuh ambisi, seluruh detik kehidupannya diabadikan oleh kamera, sejak kecil pesona kecantikan adalah alat. Hari-hari dilalui, mulai dari lomba bayi sehat hingga lomba nyanyi. Lomba kecantikan dan foto model. Keyakinan diri tak ragu lagi, rayuan maut bukan masalah. Ketenaran berlanjut, keatas panggung dunia hiburan, semakin dicintai dan dikagumi, dibawah lampu sorot dan terbalut cerita fiksi. Badan aduhai wajah yang amboi, dikenal oleh semua pencinta sinetron, idola semua pembantu dan ibu rumah tangga. Menjadi supplier utama infotainment, memberikan lapangan kerja yang begitu besar dengan bersensasi dan berskandal ria.
Balada Bayi Organisatoris
Sejak kecil mereka sudah pintar mengatur, bahkan bisa mengatur pembagian makanan kecil suguhan. Mereka tipe yang bisa sukarela menawarkan diri memotong kue bagi semuanya, sambil menyisakan potongan terbesar buat dirinya sendiri. Mengatur siapa yang jadi penjahat dan pahlawan dalam permainan di playgroup, dilanjutkan dengan ketua kelompok, ketua kelas, ketua OSIS, ketua Ormas dan calon legislatif. Idealisme berkobar-kobar, atau setidaknya terlihat berkobar. Biasakan memberi insentif bagi orang lain untuk mendukung anda! Umbar janji-janji, jeli membaca ketamakan dan obsesi orang lain, gunakan kesempatan untuk membeli suara. Perlahan meniti jenjang kepangkatan, menuju puncak-puncak organisasi massa. Keahlian bermanuver terus dimatangkan, siapa tahu nanti dibutuhkan. Untuk menikam rekan atau atasan dari belakang. Muncul sebagai penyelamat dan suara 'agung' yang bijaksana. Bijaksana bijaksini, asal untung teman menjadi lawan. Dekat siapa jauh siapa, siap berteman dan siap berkhianat bila perlu.
Balada Remaja menjelang Dewasa di Partai Politik
Setelah perjuangan yang melelahkan dilingkungannya masing-masing, bayi bayi politik yang imut-imut ini tumbuh dan mulai dewasa. Setelah dipikir-pikir, setelah perjuangan hidup yang melelahkan itu, mereka telah tiba dipuncak dunianya masing-masing.
Sang bayi dinasti politik penguasa telah menjadi Pangeran yang siap mewarisi tahta politik, bayi dinasti politik lainnya (mantan penguasa) telah siap sebagai tokoh oposisi yang dipenuhi stiker, poster, spanduk promosi keagungan masa lalu keluarganya. Kedua bayi ini sudah dianggap layak tanpa perlu fit and proper test. Darah katanya menjamin, genetika menjamin integritas dan kejujuran mereka.
Bayi tokoh agama juga telah mencapai puncak, kata-kata mereka bagaikan interlokal langsung dari Yang Kuasa. Bersama dukungan habis-habisan dari pengikut, misi dan visi mereka dianut oleh pengikutnya. Dijalankan dengan penuh ketaatan, tak boleh dipertanyakan apalagi diragukan. Ormas-ormas pendukung diri sudah disiapkan, untuk meluncurkan diri ke puncak keagungan.
Bayi tengkulak telah berkendaraan mewah dan berkantor tingkat, konglomerat-konglomerat dibidangnya masing masing. Hasil jerih payah koneksi, kolusi dan nepotisme telah melahirkan buahnya. Tak ada bisnis yang tak tersentuh, tak ada tender yang tak mungkin dimenangkan. Tinggal atur pasti beres. Belum cukup keuntungan, belum puas berdagang, masih ada yang tak tentu, memperlambat keuntungan dan memungkinkan kerugian.Tak disangka ekspansi bisnis mentok juga, membeli pejabat dan hakim ternyata ada batasnya, sungguh..ehem...mengherankan di negara ini.
Bayi selebritispun jenuh, jenuh dengan kepopuleran dan persaingan. Umur bertambah, saingan yang ganteng dan cantikpun bertambah. Setelah diversifikasi maksimal, jual wajah rupawan, tubuh pesona dan suara menghanyutkan. Sinetron, album lagu, iklan, kawin cerai dan operasi...Apalagi yang bisa dilakukan, agar kepopuleran tidak menyusut?
Bayi organisatoris telah menjadi pemimpin. Teriakan dan slogannya memukau massa, kepemimpinannya diidolakan oleh golongannya. Pujian bertubi-tubi, putra kebanggaan daerah, simbol suku tertentu, agama tertentu. Fotonya dipajang dikantor-kantor, namanya diberikan ibu- ibu penggemar pada bayi-bayi yang baru lahir. Kata sang ibu..cepat besar nak, kelak sepintar tokoh itu!
Setelah mencapai puncak dibidangnya masing-masing, muluslah langkah bayi-bayi itu menuju tempat terhormat. Tempat termulia didalam masyarakat berbangsa dan bernegara! Gedung megah di Senayan, dengan pagarnya yang baru, kuat, tinggi menjulang dan anti demo, dengan parkiran yang luas untuk mobil-mobil mewah. Setelah kekaguman masyarakat dibidangnya masing-masing diperoleh, tinggal menorehkan nama dalam sejarah.
Sang bayi dinasti politik tampil penuh percaya diri, bukankah dia sudah seumur hidup menunggu saat ini? bagaikan putra mahkota (bukan 'wakil' yang dipilih rakyat) dia melangkah tegas. Yakin-seyakin-yakinnya akan Hak yang dimilikinya untuk berkiprah. Terbayang wajah orang tua dan sanak saudara, rasa bangga melanjutkan 'tradisi' keluarga...yang dalam hiruk pikuk politik bangsa ini, seringkali jadi motivasi utama berbungkuskan nasib rakyat.
Bayi tokoh tokoh agamapun melangkah yakin, beberapa diantara mereka punya visi yang jelas. Visi mengagungkan Khalik, melalui keluhuran ajaran. Sebagian lagi dari mereka melihat bangsa yang dipertobatkan, disterilkan dari orang-orang kafir. Agenda mereka bukanlah kesatuan bangsa, tetapi kemenangan golongan dan pemusnahan semua yang tidak sejalan. Dasar mereka bukanlah dasar negara, tetapi fanatisme sempit yang dirias cantik. Apanya yang salah? bukankah Yang Kuasa memihak kita? segalanya pasti benar jika Yang Kuasa dipihak kita. Membunuhpun dianugerahkan pemuasan nafsu, jikalau Yang Kuasa dipihak kita.
Bayi tengkulak terlihat berseri, tak ada yang lebih indah daripada Senayan! Disini segala bisnis bisa dilakukan, bersama dengan orang-orang yang mengerti dirinya. Apapun alasan dan latar belakangnya, betapa senangnya berdiskusi dan berkumpul dengan orang-orang yang bermain diaturan yang sama: keutungan diatas segalanya. Segalanya pintu yang tertutup kini terbuka, cukup bercengkerama diruang-ruang yang tersedia, jabat tangan dan dua macam senyum. Senyum untuk pers dan rakyat dan senyum untuk rekan 'sekerja'.
Bayi selebritispun puas, ini order yang tak kunjung putus! Masih banyak kampanye dihari esok. Suara penuh pesona, wajah nan rupawan dan lenggak lenggok tubuh, tak pernah gagal menarik pemilih, tampil cantik setiap hari, menjadi caleg tanpa halangan. Partai siapa yang tidak bangga, punya tokoh selebritis? Simpatisan mana yang tak terpukau?
Bayi-bayi organisatorispun dipenuhi semangat berapi-api! Demo-demo dan slogan idealisme telah mengatarkannya kekursi empuk di Senayan. Selesailah sudah jerih payah dan keringat! Disinilah perjuangan yang sesungguhnya dimulai! Hanya..kok sedikit berbeda dengan waktu didepan kampus...perjuangan disini bukan soal idealisme, tapi kompromi..bukan kebenaran tapi tukar guling...bukan tidak cukup uang untuk makan..tetapi amplop mana yang harus diterima atau ditolak. Bukan berdiri bersama yang punya integritas, tapi mem-beo-kan kehendak pimpinan parpol atau dewan. Ini lain sekali, harus mengikuti tata krama dan aturan, protespun harus diagendakan, tidak setujupun tidak boleh disuarakan kalo tidak dapat giliran. Ini untuk menjaga kehormatan dan martabat, toh namanya wakil rakyat yang termulia. Semua harus melalui prosedur, semua harus musyawarah untuk mufakat.
Demikianlah saudara saudari...balada pertumbuhan politikus di negeri ini, dari asal usul yang sederhana, tidak terlalu sederhana atau malah tidak jelas sama sekali. Tibalah mereka di Senayan, sebagian kecil berjuang dengan hati nuraninya, sebagian besar tidak pernah tahu apa yang namanya nurani. Sebagian kecil suara yang menyuarakan rakyat, sebagian besar menyuarakan kepentingan diri, golongan dan siapapun yang bisa membayar...kemana arah demokrasi bangsa ini hanya mereka dan Tuhan yang tahu...seperti bajaj saja, belok kemana hanya supir bajaj dan Tuhan yang tahu...hehehe Sampai kapankah bangsa harus puas dengan politikus semacam ini? ...hanya Tuhan yang tahu...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar