moo-moo melewati 17 Agustus taon ini dengan kecapekan..sedih..gak dapet deh kontemplasi mengenai bangsa ini..moo-moo berharap gak terjebak dalam kesibukan kerja..sampai sampai gak bisa lagi mikirin bangsa ini..walau moo-moo gak pernah mengaku-ngaku deket dengan banteng(saudara moo-moo yang jadi simbol partai politik)..sebagai sapi moo-moo berusaha tetep nasionalis...baca deh..menurut temen-temen..apakah kondisi sudah berubah?tambah baek atau tambah parah?
Dari 17 Agustus 2005 ke 1 Oktober 2005
(28 September 2005)
2005
Pagi hari, berdiri di tengah barisan, menunggu upacara bendera dimulai.
Dirgahayu ke 60 bangsaku, dirgahayu negeriku. Berapa kali sudah penulis berdiri dalam situasi yang sama? Mesin mesin politik Orde Baru, mencuci otak, mengarang sejarah. Membesarkan generasiku, tapi...tak semuanya kelam. Lagu lagu perjuangan terngiang didalam telinga, hasil indoktrinasi seumur hidup. Berkah yang Kuasa, mampu cinta tanah air dan bukan pembela busuknya propaganda. Sesaat penulis berdiri melintasi waktu, mencoba membandingkan dulu dan kini. Susah berkonsentrasi, ditengah hiruk pikuk gosip dan canda. Gerakan kaki mahasiswa yang gelisah, goyangan badan dan lidah tua dan muda. Sang Saka Merah Putih siap dikibarkan, berlatarbelakang gedung perkantoran modern. Keramaian kendaraan, mobil mewah yang berlalu-lalang. Sesaat hati bergejolak dan mata menoleh kebelakang. Hadir dalam imajinasi, pada upacara pertama, 60 tahun yang lalu.
1945
Penulis hanya berani berdiri, dibelakang para pejuang. Emosi memenuhi udara yang kuhirup. Emosi bapak-bapak bangsa, emosi para pejuang. Sang Saka Merah Putih berkibar, hasil jahitan tangan seorang ibu yang berjuang, bukan hasil industri dadakan setiap tujuhbelasan, yang bisa dibeli dijalan-jalan. Setiap detik, setiap tetes keringat, darah dan air mata. Terbayar lunas oleh setiap detik proklamasi. Aku merasakan, kehadiran lebih dari mereka yang berdiri, mungkinkah, setiap jiwa, mengingat mereka yang tidak bisa hadir? Mereka yang seharusnya turut menyaksikan tetapi tak kuasa. Gugur melawan maut, penderitaan dan kekejaman penjajahan. Bhinneka Tunggal Ika, Dwi tunggal bapak bangsa. Dari Sabang sampai Merauke.
2005
Tersentak sadar, Sang Saka Merah Putih bergerak perlahan. Perlahan pula hati menangis, tak kuasa berdiri ditengah larutan formalitas. Betapa bedanya, suara yang bersama membaca, dasar negara. Dimanakah rasa haru? dimanakah lautan emosi yang baru saja kurasakan menusuk kebarisan paling belakang? Yang hadir adalah ketidaksabaran, ketidakpedulian, kewajiban yang diharuskan dan kekecewaan. Penulis diselimuti rasa malu, tak sanggup menghadapi, wajah-wajah para pendiri bangsa. Tersirat pemikiran, betapa tidak layaknya kita!
1945
Terjatuh menutupi muka, tak sanggup sudah! Melihat kekecewaan dan kepahitan, diwajah bapak-bapak bangsa. Tak sanggup menjelaskan, betapa generasi penerus mereka telah mengubah darah, air mata dan keringat mereka menjadi sampah berlabel Indonesia saat ini. Tangisan mereka menusuk tulang dan sumsum, pertanyaan mereka bagaikan pisau yang menghujam. Mereka tidak bisa mengerti, mengapa kemerdekaan yang mereka bayar dengan darah, kini menjelma menjadi penjajahan oleh bangsa sendiri. Mereka tidak habis pikir, mengapa Sumpah Pemuda menjelma menjadi Satu Suku, Satu Golongan, Satu Partai. Mereka tidak mengerti mengapa saudara sebangsa dan setanah air, mewujudkan adil dan makmur hanya bagi diri sendiri dan keluarga. Mereka terhenyak ketika nama Khalik yang mengaruniakan kemerdekaan bagi bangsa ini, dijadikan alat menindas, memperkosa dan menganiaya saudara setanah air.
2005
Pancasila mulai dibacakan, lagu Padamu Negeri dikumandangkan. Mengheningkan cipta dilaksanakan...Seakan terdengar, jeritan kemarahan dari para pahlawan. "Kami tidak butuh didoakan secara formalitas! kami tahu apa yang kami perbuat, kami menghadap Khalik setidaknya dengan sadar, apa yang kami perjuangkan dalam hidup!" Mendengung perkataan ini: "Daripada berpura-pura mendoakan kami, apa yang diperbuat untuk meneruskan perjuangan kami?" Kami tidak berjuang untuk memperkaya diri, kami tidak berjuang untuk mencaplok kekuasaan, kami menderita demi masa depan anak cucu kami, bukan menciptakan penindasan dan penderitaan bagi generasi anak cucu. Kalian munafik! beraninya menyanyikan Padamu Negeri, ketika keangkaramurkaan menjadi makananmu sehari-hari. Ketika retorika menutupi kekejian dan kebusukan, mabuk kekenyangan dari uang milik rakyat dan bangsa. Ah tak sanggup lagi diri ini! mendengarkan kekecewaan kemarahan ribuan gugur bunga, bunga bunga bangsa. Bunga bunga yang menjadi pupuk tanah kemerdekaan, tanah kemakmuran.
Tiga hari lagi, Hari Kesaktian Pancasila (menurut sejarah yang direkayasa). Penulis ketakutan, membayangkan apa yang akan dikatakan oleh mereka yang sudah mendahului kita kali ini (jikalau mereka melihat masa ini). Jikalau hari proklamasi, perbandingan menelanjangi kegagalan dan kehancuran. Lengkap dengan listrik padam se-Jawa Bali, bagaikan ironi Dirgahayu. Apa reaksi mereka? terhadap manipulasi kekejian sejarah?
1965
Kengerian dimana-mana, tetangga dan teman menjadi lawan, tuduhan tak beralasan berakhir dengan kematian. Kekejian saudara sebangsa, ratusan ribu berguguran, segelintir yang diakui. Stigmatisasi yang tak dimengerti, membawa maut dan 40 tahun penderitaan. Kenapa begitu banyak wajah? ratusan ribu wajah? yang tidak pernah disebut sejarah? kenapa begitu banyak darah, mengalir bagaikan sungai. Kesempatan dalam kesempitan, memberi label demi balas dendam dengki dan iri. Kesempatan dalam kesempitan, dari mahasiswa menjadi menteri. Dari rakyat tertindas menjadi penindas.
Ketakutan melanda diri, akankah para pelaku sejarah membuka tabir misteri? Maukah mulut-mulut yang diam (atau didiamkan) sampai mati mengkonfirmasikan kepalsuan masa kini? Aneh, penulis mengingat kedepan, masa propaganda, keharusan menonton film setiap tanggal 30 september. Betapa naifnya, nasionalisme yang dibangun diatas sejarah terseleksi. Akankah tokoh tokoh pahlawan revolusi berbicara? Penulis tidak yakin apa yang bisa dipercaya, dari cerita yang penuh kosmetika politik. Penulis tidak takut, akan komentar tokoh tokoh buatan sejarah. Penulis justru miris, membayangkan kata-kata sederhana dari ratusan ribu mulut yang tak pernah tercatat dalam sejarah. yang dilenyapkan oleh penulis sejarah. Akankah mereka kembali berteriak: Kenapa? apa salah kami? Penulis terheran heran dan bergidik, sebagian dari mereka tidak sesuai imajinasi, berpakaian dan berparas modern. Dari manakah mereka? Mulut mulut itu serentak menjawab: Mereka adalah saudara sebangsa kami, senasib sepenanggungan, dari segala jaman tahun-tahun kemerdekaan. Dirgahayu Indonesiaku, darah yang tercurah, tubuh-tubuh yang remuk, karya rezim dan penguasa. Korban perkosaan dan penganiayaan, korban senjata penegak hukum dan bukan penjajah, korban ketidakpedulian dan penggusuran.
2005
Sejarah berlanjut, pemalsuan berlanjut. Perhatian hai korban- korban kekejian saudara sebangsa! Segera menyusul dan menemani anda, mulut-mulut yang akan tersingkir, tumbal ketidakadilan dan keangkaramurkaan penguasa. Mempertanyakan kenapa? kenapa saya harus mati?kenapa saya harus tersingkir? kenapa saya diperkosa dan dianiaya? Dirgahayu negeriku.
Akankah hari kesaktian Pancasila seperti biasa, menjadi perpanjangan kepalsuan sejarah? akankah retorika yang didasarkan oleh sejarah palsu dipoles baru, menjadi justifikasi kebijakan yang tidak bijak? Penulis dengan gentar menunggu. Menunggu kesaktian Pancasila dibuktikan, bukan oleh propaganda politik, bukan oleh pemalsuan sejarah, tapi melalui kembalinya tokoh-tokoh yang melahirkan Pancasila dari lubuk hati. Pancasila yang bukan alat politik, tapi cara hidup. Mampukah hari kesaktian Pancasila, mengalahkan dusta keji yang membidaninya? Terlalu lama sudah, hari Kesaktian Pancasila justru menunjukkan ketidaksaktian Pancasila. Hari Kemenangan Pancasila versi penguasa identik dengan kemenangan manipulasi sejarah. Merek politik maling berteriak maling. Fondasi absolutisme kekuasaan. Dramatisasi bahaya laten, bagaikan menyodorkan gambar setan untuk menutupi wajah setan yang sesungguhnya. Mempertontonkan ketidaksaktian Pancasila dari sikap hidup penguasa (yang katanya) pembela Pancasila. Yang fasih beretorika Pancasilais, sambil menginjak-injak cita-cita luhur para penulisnya. Haruskah penulis, menyetujui suara banyak orang yang saat ini berkata: Apanya yang sakti? bahwa hari kesaktian Pancasila yang sejati, belum pernah terjadi? Jikalau demikian, kapankah penulis dapat merayakan keagungan cita-cita luhur pendiri bangsa? Mungkin satu saat, ketika mulut-mulut yang tersingkir, teraniaya, terbunuh boleh tersenyum kembali. Suatu saat yang sepertinya semakin jauh dari jangkauan kenyataan. Bukan 17 Agustus 2005, dan bukan 1 Oktober 2005.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar